Gelisah

Saat ini pukul 7.17 di Bandung. Terbangun seperti biasa karena kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Saya rindu menulis sepertinya. Sudah lama ribuan kata-kata berputar di atas kepala seakan ingin di lepaskan.

Bukan, saya bukan ingin membuka aib saya, kelemahan saya. Tapi melegakan saja rasanya. Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan. Menulis seperti membagi cerita yang menunjukan saya. Kalau saya tetap manusia.

Entahlah sudah berapa banyak hal-hal telah terlewati begitu cepatnya. Padahal kadang saya masih merasa seorang anak perempuan umur 6 tahun yang merindukan ibu dan ayah. Memeluk erat foto mereka karena kesepian yang tak tertahankan. Menahan perpisahan, dan menantikan pertemuan yang singkat.

Secara tidak sadar sejak ini saya sangat membeci perpisahan. Saya benci ditinggal. Detik-detiknya terasa sangat lamban. Detik-detiknya terbayang. Rasanya menusuk. Kadang saya bertanya, sebeginikah saya? Apakah yang lain juga sama? Dan akhirnya saya mulai terbiasa. Biasa mengalami perpisahan. Perpisahan yang biasa dan menyakitkan sekalipun. Entahlah apa yang menguatkanku di saat-saat itu. Walaupun rasanya sakit namun itu yang membuat saya kuat berdiri. Satu hal yang lewati saat itu. Tuhan, Dia lah yang memberikanku segalanya sampai saat ini.

Memang benar pengalaman tidak bisa dibeli. Pengasah kehidupan. Pengasah karakter. Pengalaman baik atau buruk. Sering saya terpuruk. Apalagi dengan masalah cinta. Sangat biasa memang. Namun rasanya seperti berkeping-keping. Semua orang memiliki kadar permasalahan yang berbeda. Hal yang sama adalah kita sama-sama merasakan sedih, sendiri, dikhianati, ditinggalkan. Bertanya mengapa harus begini? Mengapa harus seperti ini? Menapa semua tidak sesuai harapan? Mengapa semua di luar perkiraan? Mengapa tidak seperti yang saya inginkan? Beribu pertanyaan membebani pikiran.

Siapapun yang menyakiti, mereka tetap berharga. Mereka ditakdirkan menjadi ujianmu. Mereka membuat lebih kuat. Mereka pelajaran hidup. Jangan terpuruk dengan masa lalu. Masa itu sudah berlalu. Akhiri kesedihan, jalani kehidupan dengan kebaikan. Tersenyum dan terima takdir. Bangkit, jadilah seseorang yang lebih berharga dari sebelumnya. Jadilah orang yang memiliki kualitas. Jangan iri, jangan dengki, jangan benci, jangan ada kata dendam, itu penyakit dalam kebahagiaan.

Tuhan punya rencana lain. Tuhan, yang menguatkan. Tuhan yang memberi kehidupan. Dan saat seperti ini saya melihat sisi lain kehidupan. Sisi baik dari kesedihan. Belajarlah untuk menerima. Belajarlah untuk menjalani kehidupan dengan hati yang lapang. Tersenyumlah dan sabar. Hal indah menanti. Tanamlah benih-benih kebaikan dalam hidup. Kelak hasilnya pun akan baik. Kalau tidak di dunia, di akhirat nanti.

 

Advertisements

Author: Intan Hadiyanti

Perempuan yang hampir berusia 22 tahun. Beru saja menyelesaikan kuliahnya di bidang Ilmu Komunikasi, Jurnalistik. Sedang menjalani kehidupannya untuk menjadi wanita dewasa. Senang sekali berbahasa Indonesia. Masih mencari hal yang benar-benar diinginkannya. Cukup melalui banyak hal yang membuatnya sedikit kebal akan kehidupan dunia. Terlalu perasa, sensitif, dan peka. Lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya. Suka menulis perasaannya dan peristiwanya, semoga kalian juga suka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s