Tame Impala 2016

Jumat, 29 April 2016 adalah dimana ketika penantian gue akhirnya terwujud. TAME IMPALA JAKARTA! Dengan harga tiket yang cukup lumayan ngures kantong anak kosan yaitu Rp 777.500. Venue-nya adalah di Parkir Selatan Senayan, Jakarta.

Jangan sedih gue untungya gak pergi sendiri. Walaupun segala plan yang sudah tersusun sangat detail itu berantakan tapi, gue gak mau ambil pusing yang penting adalah gue nonton Tame Impala. Dan karena disana jadi ajang reuni gue dengan ciwi-ciwi gue yang udah lama gak nge gigs bareng, secara tera khih kalo gak salah Miami Horror di The Foundry 8 (seinget gue y). Bersama Shita, Karina, Cici, plus banci-banci gue.

Opening mereka bikin gue merinding dari ubun-ubun sampe ujung kaki. Gue bahagia, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Visualnya? Jelas, sangat jelas. Yang selama ini gue cuma ngedokem ae liat visualizer iTunes. AKHIRNYA!!!. Lagu mereka adalah sejarah kehidupan gue yang pernah galau menjadi bahagia. Dari kejadian bego sampe tolol, soundtrack hidup gue ternyata adalah mereka.

BUT. Karena mungkin ini konser tunggal, dan bukan festival, berasa cuma sedetik. Kurang lama, dan ada lagu-lagu yang gue tunggu tapi ternyata gak di bawain. Sedih sih tapi ya gapapa lah. Mungkin lain kali harganya gak semahal itu buat sesebentar itu.

Btw, karena gue gabawa camera pas konser karena males ribet, paling dokumentasi seadanya. Nanti gue rangkum di video deh ya, Ciao! X

image

DSCF2031DSCF2035

X World

Hanya dengan sebuah lagu yang benar-benar ku suka, aku seakan bisa menembus waktu. Merasakan benar-benar ada di waktu yang ku mau. Kadang menakutkan karna itu benar-benar terasa nyata. Membingungkan menentukan dimana aku yang sebenarnya. Apakah dunia nyataku yang sedang aku bayangkan? Rasanya aku bisa berpindah waktu dan tempat semauku. Apa hanya aku? Aku yakin tidak.

Kadang rasa takutku berlebihan karena mencari tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Padahal kata “besok” hanyalah sebuah misteri, belum tentu terjadi, belum tentu pula umurku sampai. Namun, disinilah ketika aku bisa merasakan “besok”. Semua emosiku bercampur aduk. Bahkan kadang sampai tertawa hingga benar-benar menangis ketakutan.

Aku selalu menganggap memiliki dunia yang lain. Yang benar-benar aku bisa masuki semauku. Ya itu imajiku. Tempat aku bersembunyi dari dunia nyata yang menurutku membosankan dan melelahkan. Rasanya sangat nyaman. Tapi kadang aku sadar, aku harus kembali ke dunia yang sebenarnya.