Pilu

Dia sudah jatuh berulang kali. Bangkit pun berulang kali. Padahal dirinya sudah habis energi. Dia hanya akan menjadi korban kekecewaannya.

Sudah tidak ada derai air mata di pipinya. Dan dia hanya akan tertidur dengan pilu. Bersama gelap. Dan harap yang pupus.

 

Mimpi Sedetik

buaian selanjutnya:

 

mencintai.

hal yang paling aku benci

padahal akan berujung sama

berakhir lara

 

tidak! tidak! sadarlah!

kau sedang dalam mimpi!

—————————————

tapi,

aku ingin menikmati mimpi ini

satu detik atau

satu menit atau satu jam

atau bahkan,

selama aku bisa?

Pengorbanan

Tak akan ada pengharapan lagi.
Aku berhenti di titik ini.
Sudah tau rasa kecewa.
Perih terluka.
Seperti akan binasa.

Aku mulai lemah, sadar kah kau?
Lemah untuk menguatkanmu.
Energi ku habis terkuras untuk dirimu.
Segalanya tentang dirimu.

Apakah aku saja,
yang berjuang?
Bagaimana dengan kau?
Apakah lalui hal yang sama?

Kurasa tak seberat diriku.
Korbankan ego,
dan kerap terluka,
menahan segala rasa,
untukmu tetap bahagia.

Drama Dunia

Apakah kamu pernah merasa lelah?

Benar-benar lelah untuk merespon dunia.

Titik dimana dirimu hanya menarik dan menghela nafas panjang.

Seakan sudah kebal dengan semua drama.

Hanya senyum ini yang bisa menjadi senjata,

bahwa aku masih baik-baik saja,

untuk melanjutkan hidup di dunia.

 

 

Siang Jakarta

Siang itu, Jakarta panas seperti biasanya. Gedung-gedung tinggi dengan pantulan cahaya dari kacanya. Tiang-tiang besar yang separuh jadi. Mobil yang saling mendahului.  Awan yang silih berganti menjadi penghias pandangku. Kala itu memang langit begitu cerah.

Begitu terang matahari yang melewati ke pupil mata. Aku menyipit. Mengurangi cahaya yang masuk. Ah aku selalu lupa membawa kacamata hitam, benakku.

Ku palingkan pandanganku ke arahmu. Disampingku. Pantulan cahaya itu. Cahaya yang masuk ke matamu. Membuat bulu di mata itu semakin jelas. Dengan wajahmu yang begitu tegas. Aku hanya terdiam, begitu pun dirimu. Aku memikirkan sesuatu. Dan dirimu, memandang ku dengan pikiranmu.