Suara Malam

kita, manusia, berproses, dalam alur.

tak patut menghardik, atau beri sinisan.

karena sungguh kita tak tahu apa yg telahnya atau sedang lewatinya.

Advertisements

Qadarullah

Dua hari yang cukup melelahkan hati dan jiwa. Ya Allah! dari aku tertawa hingga mendadak hanya melihat dengan tatapan kosong. Dengan teguran dan sentakan temanku Heh! jangan bengong! Dan aku hanya tersenyum kecil. Gimana? Udah selesai nangisnya? Kata mereka dan aku menjawab Belom! Rengekku yang sebenarnya sangat menyakitkan dan meletihkan. Sambil terus menangis semakin kencang. Pikiranku terpenuhi dengan tanya yang tak henti. Kenapa kau harus melakukan ini? Kenapa kau harus melakukan itu? Detik yang berjalan sangat terasa pergerakannya melamban. Ku tunggu satu menit berlalu saja bagai menunggu beberapa hari. Aku menangis atas semuanya. Dadaku rasanya mau meledak. Aku harap aku bangun dari mimpi. Tanya tanya selanjutnya yang menghantui. Ya Allah aku hanya berdiam dan menangis. Seluruh energiku sudah terkuras habis. Hatiku sudah bukan jadi kepingan, malah sudah jadi serpihan. Aku coba menyatukan diriku. Aku coba tenangkan jiwaku, lewat-Mu ya Allah. Semua hal negatif menumpuk dalam beberapa jam. Saat aku mengetahui semua yang tidak aku ingin ketahui. Semuanya. Semuanya aku arahkan padamu. Kau kenapa? Kenapa kau melakukannya? Rasa kecewaku meluap begitu kuat sehingga aku harus melakukan sesuatu. Tapi aku mulai tersadar. Bukan, bukan, ini bukan salahmu, ini salahku. Atas semua dosaku terdahulu. Allah mencoba menghapuskan dosaku lewat dirimu. Dengan kesakitan-kesakitan itu. Begitu pula Allah memberikan jalanku lewatmu. Aku tak mampu membencimu. Karena aku tak patut. Siapa aku bisa membencimu. Ini salahku yang memendam harapanku padamu. Ku buang semua energi negatif yang terus menggerogoti mental batinku. Aku lawan mereka dengan meyakinkan hatiku karena-Mu ya Allah. Dan aku semakin tersadar kalau ini semua bukan tentangmu, tapi tentangku. Ku alihkan semua perkara ini bukan karena dirimu menyakitiku, tapi karena dosa-dosaku yang terlalu banyak! dan Allah mencoba menghapusnya dengan perkara dunia. Dan kesakitin ini adalah karena pengguguran dosaku sebelumnya atas perbuatan yang memang harus aku terima. Allah sangat baik padaku selalu memberikan jalan dan Dia selalu memberikan kehidupan-kehidupan yang tak pernah ku duga. Satu hal lain yang harus aku lakukan. Untuk selalu berusaha melayakkan diriku pada Allah. Tanpa membenci siapapun. Qadarullah wama sya’a fa’ala.

Larut Malam

Setahun yang lalu, saat kita bertemu. Bandung malam saat itu agak berbeda seperti biasanya. Melawati jalan dengan awasan bulan yang sedang memantulkan cahaya. Malam tidak terlalu gelap. Bukan karna bintang-bintang, karena rasanya memang Bandung sudah cukup enggan memperlihatkan mereka. Paling hanya lampu-lampu kota atau kendaraan yang masih hilir mudik berlalu lalang menuruti para pengendaranya.

Saat itu aku berada disampingmu. Sosok yang menegangkan dan semakin menebarkan aura yang asing. Masih sangatlah tak biasa. Ajakan untuk menemani makan malammu benar-benar terjadi dalam hitungan yang teramat singkat. Tanpa sadar aku menyetujuinya secara spontan dan sudah di dalam mobilmu. Hah kau gila ya? Mau tak mau saat itu hanya ada dirimu, tanpa yang lain. Terperangkap di satu waktu yang sama. Kecanggungan yang tak bisa dipungkiri. Haduh! Padahal tadi aku pulang saja. Sampai pada akhirnya, beribu topik pembicaraan aku pikirkan demi memecah keheningan.

Tampak wajahmu tak kuingat jelas. Lagi-lagi aku katakan dirimu masih orang yang sangat asing. Apakah itu cukup jelas untuk menggambarkan keasinganmu bagi diriku? Dua orang yang tak pernah menyangka akan mengenal satu sama lain. Dirimu yang ternyata berada di tempat yang sama selama bertahun-tahun denganku. Bahkan berada di sebuah sekolah yang sama dari ratusan sekolah lainnya. Dan di tahun-tahun berikutnya, kita menjadi seorang perantau di sebuah kota yang sama pula, jauh dari Ibukota. Selingan pertanyaan-pertanyaan muncul di benakku. Apakah kita pernah berpapasan tanpa sadar? Ataukan saling melewati tanpa sadar? Atau bahkan sekedar berdiam di sebuah tempat yang sama tanpa sadar? Dan dirimu adalah orang yang tak pernah aku sadari selama ini. Kita, tak menyadari satu sama lain.

Takdir mengantarkan kita pada tengah kota Bandung. Kota yang sudah kuanggap memberikan segala kesedihan. Sampai-sampai rasaku pada kota ini rasanya sudah padam dan hanyalah kekelaman. Namun malam itu, rasanya sedikit berbeda. Aku sedikit melupakannya, Bandung yang ku anggap kelam.

Aku benar-benar penuh ketidaktahuan akan apa yang akan terjadi saat itu. Jelasnya, waktu kala itu berjalan lama dari biasanya. Keheningan dan ketegangan saat itu berhasil disingkirkan dalam beberapa menit. Setelah saat itu, pembicaraan kita terjadi tanpa henti dan saling balas. Semua pertanyaan dan jawaban dari berbagai topik obrolan dibicarakan. Seakan itu adalah pertemuan yang hanya akan terjadi dalam sekali dan tak akan terulang lagi. Seakan itu adalah waktu yang kita curi dari kenyataan. Karena pada nyatanya, kita terhalangan oleh sebuah jarak. Jarak pertemanan yang tidak bisa diubah.

Aku tak menyadari seberapa banyak mata kita bertemu untuk saling menatap. Entah sebarapa sering aku berusaha mengalihkan pandangku pula untuk menghindari sorotan mata yang mengintimidasi. Menghindari padangan yang mencoba membaca diriku. Walau sebenarnya aku pun melakukan itu. Membaca dirimu. Aku seakan tau apa maksud sorotan mata itu. Aku berusaha tak acuh. Malam berlangsung sampai cukup larut bersama dengan segala perbicangannya. Dan semua berhenti ketika kita memutuskan untuk menyudahi waktu.

Aku kembali dalam kamarku dengan beribu kesan dalam benakku, tentang dirimu, teman baru. Aku anggap malam itu cukup berkesan setelah lama perasaanku bias terhadap kehidupan. Aku pun berpikir, pembicaraan itu tak akan berlanjut. Sambil merebahkan tubuhku pada ranjang singgasana kamarku. Hari itu sangatlah terasa panjang. Sampai tiba-tiba muncul sebuah pesan di telepon genggamku, dari dirimu.

Diriku

sering waktu, aku menyadari sesuatu. aku hanya wanita pada umumnya. aku menangis, aku cemburu, aku rindu, aku suka, aku cinta, aku benci, aku egois. aku selalu berusaha. membahagiakan orang lain dengan mengorbankan diriku sendiri. sampai aku lupa menyisakan perasaan untuk mencintai diriku sendiri. suatu waktu pun kadang aku berpikir. akankah ada yang mengorbankan dirinya demi ku? melakukan hal yang sama seperti ku? dan saking bodohnya aku hanya tertawa kecil. jangan kau harap ada orang yang seperti itu, setidaknya kamu jadi orang itu. dan lagi-lagi aku mengenyampingkan perasaanku. aku lupa semua akan berujung jadi lara. bahkan aku ingin belajar untuk tidak memikirkan orang lain dan tapi aku tidak bisa. aku ini apa sebetulnya? kenapa aku ini? penuh perasaan yang ingin membuat mereka senang berada di dekatku, walau kadang itu menyakitkanku, teramat, sangat.

Datang lagi

aku menangis, merasa sepi.
coba katakan padamu, tapi kau tidak mengerti.
memang salahku, ini salahku, kau tidak perlu mengerti.
tinggalkan saja aku, kalau kau ingin pergi.
dunia yang ku diami memang seperti ini.
biarkan aku, biarkan sedih begini.
nanti juga aku bahagia lagi.
dengan caraku,
sendiri.