Keputusasaan

Kenapa Kau biarkan aku selalu terjatuh, ?
Kau biarkan segala rasa ini merasuk dalam tubuh dan jiwaku yang sudah lemah.
Kalbuku berkecamuk berusaha bertahan akan se gala terpaan.
Khayalku sudah tak mampu bermimpi indah bagai dongeng.
Perasaanku terombang ambing akan gelisah.
Bagai nafasku akan berakhir esok.
Ragaku seperti tak bernyawa.
Tolong! Sudahi ketidaksadaranku akan dunia-Mu yang fana.

Ratapan

Tak kuat hati ini menopang gundah
Rasanya meledak-ledak bagai ombak menerpa batuan
Ingin bicara, luapkan segala pada manusia
Sepatah kata pun tak mampu,
terkunci rapat
Hanya habiskan waktu dengan ratapan
Padahal aku lupa,
Dia yang Maha Segala akan mendengar,
jeritan hati yang tak kuasa
dan berikan jalan dengan kedamaian jiwa.

Sadarkah?

Sejenak luangkan beberapa detik berpikir. Kehidupan dunia apa yang sedang kita tinggali? Semua penuh kontaminasi. Kebencian bahkan caci maki. Setan-setan merasuki diri. Merasa memiliki hak untuk mencela tiap pribadi.

Prakata lisan maupun tulis menjadi alat bunuh. Membunuh antar kehidupan yang tidak ia jalani. Sebagai hakim atas kehidupan orang lain. Benarkah perilaku ini? Yakin ini penyakit. Penyakit hati, penyakit benci.

Hidup seperti apa ini? Hidup dengan saling menghakimi kehidupan masing-masing. Mencari pembelaan atas dirinya dengan merendahkan sesamanya? Dan tanpa sadar, kita pelaku atas dunia yang seperti ini.

Akan Ada

Ketika kamu tahu mereka tidak tahu apa apa. Berbicara sebagaimana inginnya. Memunculkan pandangan pandangan seenaknya, semaunya. Padahal sedikit pun tak pernah mereka berada di posisi yang sama. Seakan mereka semua bersih dari sebuah dosa. Seakan mereka contoh sempurna sebagaimana manusia.

Bagaimana pun akan ada yang merendahkan. Memandang dengan pikiran pikiran negatifnya. Akan selalu ada. Sekeras apa pun akan berusaha menjadi orang yang baik sekali pun. Tetap akan ada. Biarkanlah mereka dengan hipotesa hipotesa nya yang tiada akan ada akhir. Padahal yang mereka ketahui hanya sekian detik dari beribu detik peristiwa.

Aku tidak ingin bermain suci. Hanya mengatakan realita nyata. Karena memang akan ada. Dan semampuku tak terusik. Hanya jalani hidup sebagaimana mestinya. Dengan damai tanpa dengki yang tak berujung.