Sadarkah?

Sejenak luangkan beberapa detik berpikir. Kehidupan dunia apa yang sedang kita tinggali? Semua penuh kontaminasi. Kebencian bahkan caci maki. Setan-setan merasuki diri. Merasa memiliki hak untuk mencela tiap pribadi.

Prakata lisan maupun tulis menjadi alat bunuh. Membunuh antar kehidupan yang tidak ia jalani. Sebagai hakim atas kehidupan orang lain. Benarkah perilaku ini? Yakin ini penyakit. Penyakit hati, penyakit benci.

Hidup seperti apa ini? Hidup dengan saling menghakimi kehidupan masing-masing. Mencari pembelaan atas dirinya dengan merendahkan sesamanya? Dan tanpa sadar, kita pelaku atas dunia yang seperti ini.

Akan Ada

Ketika kamu tahu mereka tidak tahu apa apa. Berbicara sebagaimana inginnya. Memunculkan pandangan pandangan seenaknya, semaunya. Padahal sedikit pun tak pernah mereka berada di posisi yang sama. Seakan mereka semua bersih dari sebuah dosa. Seakan mereka contoh sempurna sebagaimana manusia.

Bagaimana pun akan ada yang merendahkan. Memandang dengan pikiran pikiran negatifnya. Akan selalu ada. Sekeras apa pun akan berusaha menjadi orang yang baik sekali pun. Tetap akan ada. Biarkanlah mereka dengan hipotesa hipotesa nya yang tiada akan ada akhir. Padahal yang mereka ketahui hanya sekian detik dari beribu detik peristiwa.

Aku tidak ingin bermain suci. Hanya mengatakan realita nyata. Karena memang akan ada. Dan semampuku tak terusik. Hanya jalani hidup sebagaimana mestinya. Dengan damai tanpa dengki yang tak berujung.

Ketika

Apakah kalian pernah merasakannya?

Di suatu detik dalam diam,
memandangnya begitu dalam.

Tak perlu beribu untaian kata,
ataupun banyaknya tangkai bunga,
untuk sekedar yakin.

Kau buat aku meyukaimu,
menyukai segala waktu bersamamu.

Tak perlu menjadi sempurna,
ketika kita bisa memandangnya dengan sempurna.

Belenggu

Ketika ku ingat, pedih itu. Semua jadi kelabu, juga hidupku. Hidup ini tiba-tiba runtuh, tertutup debu. Sampai jemariku mengijak kerikil yang tak sadar lukaiku. Aku terlalu takut. Langkahku berat ditemani tangis. Begitu pula tidurku. Tanpa cahaya, aku tersesat.

Kau benar-benar meninggalakanku. Malah kau berlari menjauh. Disini, aku berusaha untuk tinggalkan belenggu kesedihanku. Tinggalkan dirimu. Rasa yang sangat perih. Teramat pedih. Bagai tertusuk dan harus menariknya agar tak semakin menyiksa.

Memang kau sudah meninggalkan luka. Dengan bekas luka yang tak ku lupa. Mencoba kembali meraih kehidupanku. Sebisa mungkin. Walau tanpamu di sampingku.

Sedikit Curahan

     Mungkin beberapa dari yang membaca tulisanku ini bertanya, apakah aku sebegitu melankolisnya menuliskan segala kesedihan yang menumpuk di benak pikiranku? atau mungkin terlalu drama? berlebihan? terlalu mengeluh? (hehe). Memang bisa saja aku di katakan begitu. Aku tidak menampik pula karena itu hak setiap orang kan? tentu saja.

     Aku tidak ingin mencoba membuat yang membaca tulisanku ini mengerti, tapi hanya ingin mengutarakan isi hati. Ya memang aku hanya manusia yang terlalu biasa. Kadang tak mampu menahan sedikit derita cinta atau segala problematika dunia. Lagipula pilihan juga kan, untuk dibaca atau tidak. Entahlah aku hanya menyukai ketika kesedihan atau kegundahanku datang.

     Bagai aku mampu membuat untaian kata yang kadang ku juga tak tahu darimana asalnya. Beberapa runtunan kata tersirat kadang memiliki arti dan makna mendalam bagi penulisnya. Aku menyukainya. Ketika jemariku menari menguntai sebuah kata yang bermakna. Membuatku seperti sedang serius menumpahkan segala perkara dunia. Memang menyenangkan ketika tahu apa yang disuka dan melakukannya. Ku harap kalian menemukannya, yang kalian suka.

Menghindar

     Selang beberapa hari setelah kebahagiaanku meredup. Aku tak tahu mana yang nyata dan hanya ilusi semata. Hari-hariku akan berjalan seperti biasa dengan perasaan yang sama, dalam hampa. Menebar senyum hanya untuk tutupi lelah. Hindari sunyi karena itu akan bunuh diriku dengan mudah. Biarlah ramai jadi latar. Setidaknya bayang itu sulit temukanku. Walaupun pelik dunia tidak akan pernah berhenti. Semua sesuai porsi. Tapi aku tidak bisa selalu sembunyi. Hanya Dia dan memang hanya Dia, yang mampu membuatku hidup kembali. Tanpa satu pun titik keraguan yang menghampiri.