Hujan dan Mimpi

Derai hujan sore ini mengantarkanku pada sebuah mimpi
Seketika melihat bayang bayang
Apa yang ku pikirkan menjadi apa yang kuimpi
Memang hujan biasa menjadi latar
Rasanya semua redup dengan dentumannya per sekian detik
Aku terbungkam dengan senyum
Terpaku dalam bayang
Membayangkan indahnya sebuah mimpi
Aku tak ingin keluar dari pikiranku sendiri
Biarkan aku sejenak
Melupakan sedetik kenyataan yang ada
Dengan kamu, dalam mimpi itu

Advertisements

Keluh

Apakah kita bertemu di waktu yang tepat? 

Apakah kita sudah di waktu yang tepat?

Apakah kita bertemu di waktu yang sama?

Apakah kita sudah di waktu yang sama?

Atau ini hanya pertemuan sekilas?

Beribu pikirku menghantui diri

Aku tau dalam pikirku

Apa dalam pikirmu?

Aku tau mauku

Kau tau maumu?

Aku mulai membuat jalanku

Kau sudah membuat jalanmu?

Aku memilih dirimu untuk saat ini, dengan tau segala resiko yang sudah ku ambil dan akan ku ambil nanti.

Apakah kau juga begitu?

Aku tak ingin kau terluka dengan membiarkan aku terluka.

Tak bisa aku utarakan segalanya dengan sebuah kalimat yang menyedihkan. 

Aku tak mau terlihat menyedihkan.

Walaupun memang aku menyedihkan.

Sedikit akuan

Ini adalah kelanjutan ceritaku berikutnya, tentang dia. Sosok yang tak pernah ku sangka akan ikut andil dalam perubahan besar hidupku. Ku kira pertemuan pertama itu hanya akan jadi pertemuan asing yang biasa. Namun ternyata di saat itu aku dipertemukan denganmu dengan cara yang tak terduga. 

Kalau aku boleh akui perasaanku, sampai saat ini aku sangat menyukaimu, entah sampai kapan kamu baca ini mungkin hal itu tetap masih akan sama. Atau mungkin kamu baca tulisan ini 10 tahun atau 20 tahun kedepan, rasa itu tetap akan sama, aku sangat menyukai bersamamu. Pernah kan ku katakan dalam tulisanku sebelumnya. Aku menyukai segala dan semua hal saat bersamamu. Walau kadang aku tak menyukai sifat dirimu, tapi aku menyukai bersamamu. Hingga walaupun aku merasa disaat-saat tersakiti aku tetap menyukai bersamamu. 

Tidak, aku tidak tergila-gila cinta. Aku masih sadar dan sangat waras untuk menulis ini. Aku masih sadar dan waras ketika harus siap menerima dirimu pergi. Aku masih sadar dan waras ketika siap menerima dirimu tak kembali. Dan aku masih sadar dan waras untuk melanjutkan hidupku lagi. Walau mungkin kau hanya akan jadi memori yang indah tanpa penyesalan di hati ini. 

Kau tahu kan kapan aku mulai tertarik padamu? Ketika seseorang mengatakan “Dia tahu banyak tentang agama” dan seketika hatiku tersentak. Karena hal itu, karena hal agama, bukan yang lain. Aku tak pernah tertarik padamu sejak umurku masih 15 tahun atau saat kita bertemu lagi saat di umurku 21 tahun dengan penampilanmu yang sangat berbeda. Bahkan waktu itu aku ingin menjodohkanmu dengan teman dekatku, rasanya lucu dan aku sedikit menyesal. (Kalau teman dekatku baca ini, tolong maafkan aku ya 😂). Dan kamu sangat paham kan bagaimana kita bisa bertemu di konveksi itu, benar-benar jalan cerita yang sangat aneh sampai hari ini.

Dirimu yang aku temui di awal-awal itu adalah kamu yang tidak percaya akan kehebatanmu sendiri. Dirimu yang bersikeras atas ketidakmampuanmu padahal aku yakin kamu sangat mampu. Dan aku melihat sesuatu, semangat dan ketulusanmu yang mungkin tak dirimu sadari. Ini masalah tekad dan waktu. Dan saat ini kamu jauh lebih baik dari sebelum itu. 

Kepada-Mu, Wahai Penciptaku

Aku selalu bersyukur. Mungkin karena rasaku tumbuh karena kecintaanku pada-Mu dan niatku untuk kembali pada-Mu, aku dipertemukan dengan seseorang. Sebuah niat yang aku tanamkan di lubuk hatiku yang paling dalam. Setiap manusia pasti akan kembali. Kembali menjadi hamba yang seutuhnya mencintai sang Pencipta.

Ternyata perjalananku tidak semudah itu. Dengan segala ujian dan cobaan yang aku hadapi, aku selalu berpikir, semua sudah suratan, dan semua yang terbaik untukku, aku selalu mencoba melewatinya dengan sabar dan penuh dengan keyakinan bahwa janji-Mu pasti ada dan nyata.

Perjalananku menuju jalan-Mu sampai detik ini tak pernah kuurungkan. Keindahan duniawi selalu melambai memanggilku kembali. Rasanya aku kadang tak kuasa menolak, namun kecintaan hamba kepada Penciptanya tidak akan pernah berbohong. Aku terus berjalan walaupun memang rasanya seberat itu untuk selalu berada di jalan-Mu.

Sampai detik ini, aku selalu berusaha ada di jalan-Mu, walaupun aku adalah hamba yang masih sering sekali lalai. Semua yang Kau berikan padaku memang terkadang ku rasa berat. Tapi aku yakin dalam hatiku, Kau selalu akan memberikan kemudahan dan kekuatan untuk aku menghadapinya, seberat apa pun. Mendekatkan diri pada-Mu dan semua prasangka baik atas semua ujian yang diberikan adalah kekuatanku menghadapi segalanya.

Ketakutanku pada-Mu sangat nyata. Ketakutan akan dosa-dosa yang aku lakukan. Ketakutan akan perkara-perkara yang Kau benci namun aku lakukan. Ketakutan akan diriku terlalu terlena pada dunia dan lalai dalam mengingatmu. Hatiku benar-benar gelisah, hatiku benar-benar gundah, seakan semua semangat hidupku sirna seketika. Aku takut Engkau meninggalkanku. Tolong jangan tinggalkan aku.

Namun, ketika jiwa dan raga ini mengingatmu dan semakin mendekatkan diriku pada-Mu, hatiku sangat teramat tenang. Berat hidup ini menjadi terasa ringan. Ketika aku kesampingkan segala dunia dan mendambakan akhirat yang kekal. Dan suatu hari aku bertemu dengan-Mu, Wahai Penciptaku, semoga aku mendapatkan kesempatan itu.

Usaha

Hidup. Ketika mereka memaksamu untuk berjuang. Ketika mereka menyeretmu dalam suatu keadaan dimana kamu harus bergerak maju. Ketika mereka membuatmu mempunyai tujuan hidup. Ketika mereka membuatmu membuktikan sesuatu. Ketika mereka membuatmu melakukan sesuatu yang besar dalam hidupmu. Dan disitu kamu melangkah jauh, kedepan. Menghadapi segala terpaan. Dan membuktikan bahwa kamu tetap berdiri dalam jalanmu. Melaju dengan segala pengaharapan yang kamu letakkan pada Tuhan. Entah bagaimana pun caranya. Pendewasaan menghantammu dengan kejam. Berdamai atau kalah dalam pertempuran. Mencoba mencari jalan keluar tanpa suatu keraguan. Memupuk cerita-cerita perjuangan kecil. Menjadi suatu alur cerita. Untuk menjadi sebuah pembuktian, bukan pada mereka, melainkan pada diri, diri sendiri. Tentang hidup, tentang pencapaianmu. Bahwa kamu telah berhasil melewatinya. Cobaan dunia.