Hilang

Rasanya hidup makin berwarna dengan problematikanya. Terasa dengan kerumitannya. Bermakna dengan segala dramanya. Siapa yang bisa menghindari drama kehidupan? Tidak ada satu pun saya rasa. Percintanan, pertemanan, perkuliahan, pekerjaan, keluarga menjadi sumber utama problematikan kehidupan. Katanya, tiap beratnya problematika yang dihadapi, makin tinggi pula kualitas kehidupannya. Saya harap begitu.

Saya kira problematika yang saya sedang atau pernah alami hanya ada di sebuah cerita fiksi belaka, namun tidak, itu terjadi di kehidupan saya. Secara tidak sengaja saya ada di tempat dan waktu yang salah dan secara paksa memposisikan diri ini menjadi bersalah. Saya bersalah. Memang sudah tertulis takdir saya sebelum saya lahir ke dunia ini. Sekecil/seberat apapun masalah saya, memang sudah takdir. Apa yang harus saya perbuat? Hanya satu, lakukan apa yang dianggap benar. Jujurlah walaupun itu menyakitkan dan resikonya yang sangat besar. Walaupun saya tahu saya akan lebih salah dimatanya.

Kehilangan sosok teman dekat, akrab, atau bisa dibilang sahabat tak kalah sakitnya seperti kehilangan kekasih. Sulit diri ini memposisikan diri. Saya anggap tindakan saya benar dengan pikiran yang sudah cukup matang. Walaupun resikonya sangat besar bagi pertemanan/persahabatan. Inti dari semua, melakukan sesuatu dengan dasar kebaikannya yang seharusnya. Siapa tega melihat teman memperjuangkan seseorang begitu gigihnya yang kau tahu dia tidak kenyataannya tidak sebaik yang temanmu pikirkan. Membatin rasanya.

Tak bisa terus terbelenggu dalam sebuah kebohongan. Rahasia yang dianggap kecil namun sebenarnya besar. Rasa bersalah yang ada. Sudah saya katakan semua. Dengan berujung duka atas pertemanan yang sudah berjalan lama.

 

Advertisements

Rasa

laluku jadi laraku

depanku jadi bahagiaku

seakan punya dua pintu dunia

atau bisa diri ini terbagi dua?

merasakan perasaan berbeda

disaat yang sama.

 

sedih ini menjadi bahagia

menikmati kesedihan

hanya dinikmati dan

mengingatkan aku bahwa

diri ini masih manusia.

teruntuk kau – laluku.

 

tidak mampu dusta

rasa ini menyenangkan

mendambakan ini

saat ini

perasaan ini

membahagiakan hati ini

yang sudah seperti debu

apakah kau hanya sepintas kebahagianku?

atau akan selamanya?

teruntuk kau – depanku.

Melawan Naifku

Aku sudah mencapai lelahku. Bertarung dengan naifku yang tak pernah mengakui kenyataan. Bertahan menunggu sesuatu yang tak tahu akan kapan berubah. Mengharapkan hal yang sangat tidak pasti. Menyembunyikan perasaanku padahal didalamnya sangat terluka. Mencoba bangkit kali ini. Sadar kenyataannya tak sesuai. Mereka bilang kau tak pantas. Tapi, ku meyakinkan diri untuk terus bertahan.

Bodohnya ketika mencintai seseorang. Mengorbankan segala rasa sakit. Meyakinkan diri bahwa dia adalah orang yang ku inginkan. Namun tidak, semua salah. Aku hanya belum siap kehilanganmu saat itu. Belum siap dirimu mencintai orang lain selain diriku. Belum siap dirimu melupakan diriku. Belum siap dirimu bahagia bukan karena diriku. Aku juga tak siap ketika aku harus membiasakan dirimu hanya sebatas teman biasa. Egois memang. Orang terus bertanya mengapa aku bertahan. Aku tak tahu alasannya. Aku hanya melakukannya. Perasaan yang perlahan dihancurkan dengan sikapmu yang tak pernah berubah. Aku merasa pengorbananku sudah terlalu banyak dan sudah sangat cukup. Aku akui aku muak. Rasanya hatiku kebal saat ini. Sudah tak mampu lagi aku menangis mengeluarkan air mata. Namun sebenarnya dalam lubuk hatiku rasanya sangat pedih sekali. Aku masih bertanya, apakah ini tanda dari Tuhan atas usahaku? Usahaku yang kadang ku rasa hanya sia-sia. Karena aku ingin dibalas olehmu. Pamrih memang, tapi aku juga hanya manusia yang membutuhkan hal yang sama seperti yang aku berikan padamu.

Namun aku selalu percaya semua ada saatnya. Karena semua tidak ada yang kekal. Begitu juga perasaanku padamu. Perasaanku yang dulu begitu kuatnya. Perlahan melemah seiring berjalannya waktu. Perasaanku memudar padamu. Hal-hal yang begitu menyakitkan seolah membawaku pada sadarku. Dirimu memang tidak untukku. Perilakumu menyadarkanku dari kenaifanku sendiri.

Berpikir usaha orang tidak akan ada yang sia-sia. Tuhan memiliki rencananya sendiri. Aku hanya bisa berdoa sebagai manusia yang hina mencintai seorang keturunan Adam begitu besarnya. Tuhan menyadarkan ku sebagai manusia. Tidak pantas aku seperti itu. Dan perjalanan hidupku masih berjalan sangat jauh. Untuk mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik. Aku berharap tidak terlalu tinggi. Namun, Tuhan sangat mencintaiku dengan ujian-ujiannya. Aku hanya harus belajar dari pengalaman. Dari pengharapan yang sebelumnya yang pada akhirnya kandas. Yang ku yakini. Semua ada saatnya.