Larut Malam

Setahun yang lalu, saat kita bertemu. Bandung malam saat itu agak berbeda seperti biasanya. Melawati jalan dengan awasan bulan yang sedang memantulkan cahaya. Malam tidak terlalu gelap. Bukan karna bintang-bintang, karena rasanya memang Bandung sudah cukup enggan memperlihatkan mereka. Paling hanya lampu-lampu kota atau kendaraan yang masih hilir mudik berlalu lalang menuruti para pengendaranya.

Saat itu aku berada disampingmu. Sosok yang menegangkan dan semakin menebarkan aura yang asing. Masih sangatlah tak biasa. Ajakan untuk menemani makan malammu benar-benar terjadi dalam hitungan yang teramat singkat. Tanpa sadar aku menyetujuinya secara spontan dan sudah di dalam mobilmu. Hah kau gila ya? Mau tak mau saat itu hanya ada dirimu, tanpa yang lain. Terperangkap di satu waktu yang sama. Kecanggungan yang tak bisa dipungkiri. Haduh! Padahal tadi aku pulang saja. Sampai pada akhirnya, beribu topik pembicaraan aku pikirkan demi memecah keheningan.

Tampak wajahmu tak kuingat jelas. Lagi-lagi aku katakan dirimu masih orang yang sangat asing. Apakah itu cukup jelas untuk menggambarkan keasinganmu bagi diriku? Dua orang yang tak pernah menyangka akan mengenal satu sama lain. Dirimu yang ternyata berada di tempat yang sama selama bertahun-tahun denganku. Bahkan berada di sebuah sekolah yang sama dari ratusan sekolah lainnya. Dan di tahun-tahun berikutnya, kita menjadi seorang perantau di sebuah kota yang sama pula, jauh dari Ibukota. Selingan pertanyaan-pertanyaan muncul di benakku. Apakah kita pernah berpapasan tanpa sadar? Ataukan saling melewati tanpa sadar? Atau bahkan sekedar berdiam di sebuah tempat yang sama tanpa sadar? Dan dirimu adalah orang yang tak pernah aku sadari selama ini. Kita, tak menyadari satu sama lain.

Takdir mengantarkan kita pada tengah kota Bandung. Kota yang sudah kuanggap memberikan segala kesedihan. Sampai-sampai rasaku pada kota ini rasanya sudah padam dan hanyalah kekelaman. Namun malam itu, rasanya sedikit berbeda. Aku sedikit melupakannya, Bandung yang ku anggap kelam.

Aku benar-benar penuh ketidaktahuan akan apa yang akan terjadi saat itu. Jelasnya, waktu kala itu berjalan lama dari biasanya. Keheningan dan ketegangan saat itu berhasil disingkirkan dalam beberapa menit. Setelah saat itu, pembicaraan kita terjadi tanpa henti dan saling balas. Semua pertanyaan dan jawaban dari berbagai topik obrolan dibicarakan. Seakan itu adalah pertemuan yang hanya akan terjadi dalam sekali dan tak akan terulang lagi. Seakan itu adalah waktu yang kita curi dari kenyataan. Karena pada nyatanya, kita terhalangan oleh sebuah jarak. Jarak pertemanan yang tidak bisa diubah.

Aku tak menyadari seberapa banyak mata kita bertemu untuk saling menatap. Entah sebarapa sering aku berusaha mengalihkan pandangku pula untuk menghindari sorotan mata yang mengintimidasi. Menghindari padangan yang mencoba membaca diriku. Walau sebenarnya aku pun melakukan itu. Membaca dirimu. Aku seakan tau apa maksud sorotan mata itu. Aku berusaha tak acuh. Malam berlangsung sampai cukup larut bersama dengan segala perbicangannya. Dan semua berhenti ketika kita memutuskan untuk menyudahi waktu.

Aku kembali dalam kamarku dengan beribu kesan dalam benakku, tentang dirimu, teman baru. Aku anggap malam itu cukup berkesan setelah lama perasaanku bias terhadap kehidupan. Aku pun berpikir, pembicaraan itu tak akan berlanjut. Sambil merebahkan tubuhku pada ranjang singgasana kamarku. Hari itu sangatlah terasa panjang. Sampai tiba-tiba muncul sebuah pesan di telepon genggamku, dari dirimu.

Advertisements

Diriku

sering waktu, aku menyadari sesuatu. aku hanya wanita pada umumnya. aku menangis, aku cemburu, aku rindu, aku suka, aku cinta, aku benci, aku egois. aku selalu berusaha. membahagiakan orang lain dengan mengorbankan diriku sendiri. sampai aku lupa menyisakan perasaan untuk mencintai diriku sendiri. suatu waktu pun kadang aku berpikir. akankah ada yang mengorbankan dirinya demi ku? melakukan hal yang sama seperti ku? dan saking bodohnya aku hanya tertawa kecil. jangan kau harap ada orang yang seperti itu, setidaknya kamu jadi orang itu. dan lagi-lagi aku mengenyampingkan perasaanku. aku lupa semua akan berujung jadi lara. bahkan aku ingin belajar untuk tidak memikirkan orang lain dan tapi aku tidak bisa. aku ini apa sebetulnya? kenapa aku ini? penuh perasaan yang ingin membuat mereka senang berada di dekatku, walau kadang itu menyakitkanku, teramat, sangat.

Datang lagi

aku menangis, merasa sepi.
coba katakan padamu, tapi kau tidak mengerti.
memang salahku, ini salahku, kau tidak perlu mengerti.
tinggalkan saja aku, kalau kau ingin pergi.
dunia yang ku diami memang seperti ini.
biarkan aku, biarkan sedih begini.
nanti juga aku bahagia lagi.
dengan caraku,
sendiri.

Melawan Dirimu

 

aku terpaku dalam diam
menutup mataku dan menangis dalam-dalam
mengalihkan semua padanganku,
aku tak ingin tertuju padamu, saat itu
detik itu, menit itu.
dirimu tetap terbayang dan terlalu tajam
dirimu, saat itu bukan dirimu yang aku tau,
tetap berusaha menyelinap masuki pikiranku
sampai aku berusaha kaburkan semua itu
sekuatku, namun aku tak mampu.

 

Mimpi Semalam

Pagi itu, aku terbangun karena matahari sudah mengintip kecil dari celah jendela, membangunkanku dengan malu. Kamarku masih cukup redup. Ku mulai merenungkan mimpi semalam tidurku, tertegun. Mimpi yang selalu berubah. Menentukan perasaanku untuk hari itu.

Kadang suatu hari mimpi datang dengan tak menyenangkan. Membuatku gundah seharian. Seakan nyata dan terjadi. Padahal bodohnya, itu hanya mimpi.

Kadang suatu hari mimpi datang dengan sedikit bahagia, sampai aku bisa bahagia sekali. Namun bodohnya lagi, itu hanya mimpi.

Atau kadang, aku tidak mimpi sama sekali. Dan ketika bangun, aku hanya berpikir dan bertanya, “mimpi apa aku semalam?“.

Namun kali itu aku tidak tau harus bersikap apa dengan mimpiku semalam. Dan detik-detik itu, aku tidak bisa merasakan apa-apa. Hanya bingung. Dan ketika ku memikirkan hidupku, yang biasa ku gundahi, seakan semua itu yang tak nyata.

 

Pilihan

Saat aku menunggu,
Saat aku menanti, karena aku mau
Jangan hentikan aku, karena ini pilihanku.

Entah seberapa sulit,
Entah seberapa sakit, aku siapkan hatiku
Biarkan diriku.

Aku ingin mencari tau,
apakah itu dirimu?
Penantianku.

Waktu demi waktu pun,
aku akan belajar menerima takdirku,
Dirimu atau meski bukan dirimu.