Akan Ada

Ketika kamu tahu mereka tidak tahu apa apa. Berbicara sebagaimana inginnya. Memunculkan pandangan pandangan seenaknya, semaunya. Padahal sedikit pun tak pernah mereka berada di posisi yang sama. Seakan mereka semua bersih dari sebuah dosa. Seakan mereka contoh sempurna sebagaimana manusia.

Bagaimana pun akan ada yang merendahkan. Memandang dengan pikiran pikiran negatifnya. Akan selalu ada. Sekeras apa pun akan berusaha menjadi orang yang baik sekali pun. Tetap akan ada. Biarkanlah mereka dengan hipotesa hipotesa nya yang tiada akan ada akhir. Padahal yang mereka ketahui hanya sekian detik dari beribu detik peristiwa.

Aku tidak ingin bermain suci. Hanya mengatakan realita nyata. Karena memang akan ada. Dan semampuku tak terusik. Hanya jalani hidup sebagaimana mestinya. Dengan damai tanpa dengki yang tak berujung.

Ketika

Apakah kalian pernah merasakannya?

Di suatu detik dalam diam,
memandangnya begitu dalam.

Tak perlu beribu untaian kata,
ataupun banyaknya tangkai bunga,
untuk sekedar yakin.

Kau buat aku meyukaimu,
menyukai segala waktu bersamamu.

Tak perlu menjadi sempurna,
ketika kita bisa memandangnya dengan sempurna.

Belenggu

Ketika ku ingat, pedih itu. Semua jadi kelabu, juga hidupku. Hidup ini tiba-tiba runtuh, tertutup debu. Sampai jemariku mengijak kerikil yang tak sadar lukaiku. Aku terlalu takut. Langkahku berat ditemani tangis. Begitu pula tidurku. Tanpa cahaya, aku tersesat.

Kau benar-benar meninggalakanku. Malah kau berlari menjauh. Disini, aku berusaha untuk tinggalkan belenggu kesedihanku. Tinggalkan dirimu. Rasa yang sangat perih. Teramat pedih. Bagai tertusuk dan harus menariknya agar tak semakin menyiksa.

Memang kau sudah meninggalkan luka. Dengan bekas luka yang tak ku lupa. Mencoba kembali meraih kehidupanku. Sebisa mungkin. Walau tanpamu di sampingku.