Love? Please…

Kadang manusia suka lupa bersyukur. Banyak mengeluh, banyak menuntut, banyak lupa diri, merasa dirinya kurang. Tenggelam dengan kesedihannya yang tak berujung. Terlalu memuja cinta, yang tak lain memuja cinta pada manusia. “Galau” kata mereka. Konsep galau pada diri mereka kebanyakan tentang cintanya yang berjalan tak sesuai rencana, impiannya, harapannya, keinginannya.

Saya pernah di dalam keadaan ini. Sekali, dua kali, sampai pada akhirnya saya mengerti dan sayapun belajar banyak. Cinta manusia tidak akan pernah kekal sama sekali. Itu prinsip saya. Seperti yang saya tulis di tulisan saya yang sebelumnya. Saya hanya tersenyum ketika melihat kebanyakan orang di umur yang beranjak dewasa, terlalu mengkhawatirkan tentang cintanya. Kebanyakan berurusan dengan hati. Sakit hati adalah penyakit masa kini. Tidak dapat disangkal lagi bukan? Rasanya patah hati sudah menjadi trend.

Ketika sebuah pengharapan pada manusia yang berhubungan dengan cinta berujung jadi lara. Segala hal menjadi terasa sendu. Semangatpun menjadi luruh. Hidup terasa hampa. Merasa jadi orang yang paling tersakiti, paling di dzalimi, paling merana di muka bumi. Kegalauan beralurut yang saya rasa hanya menyia-nyiakan waktu untuk hidup.

Ketika saya pernah berada di posisi ini. Saya introspeksi diri. Segala hal yang membuat saya merasa terpuruk membuat saya sadar. Seberapa beruntungnya saya. Mengingat masalah yang saya hadapi adalah masalah yang sangat kecil  dibandingkan dengan masalah orang lain di luar sana. Apalagi hanya masalah cinta. Astaga! Tapi di moment ini saya banyak sadar, banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan. Tanggung jawab untuk keluarga, beragama, dan jadi manusia yang lebih berkualitas.

 

 

 

Advertisements

What’s On My Mind About LGBT

Dari sekian banyak topik pembicaraan yang diangkat di forum-forum, LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan  Transgender) adalah permasalah yang sedang menarik untuk  dibahas saat ini. Sering sekali di kelas saya selalu mengangkat isu tersebut. LGBT dianggap menjadi pernyimpangan sosial yang sangat mengkhawatirkan. Banyak dari sekian masyarakat Indonesia menentang keras dengan adanya LGBT. Apalagi dilihat dari budaya Indonesia yang cukup kental dan sangat sensitif apabila adanya penyimpangan norma.

Pengaruh LGBT ini semakin kuat karena dengan adanya peran media. Media terus menggembar-gemborkan tentang kasus ini. Apalagi semenjak legalnya LGBT di negeri paman Sam, Amerika, yang dianggap menjadi kiblat seluruh negara. Saya juga tidak mengerti mengapa negara tersebut melegalkan LGBT. Padahal banyak hal negatif apabila pernikahan sesama jenis, hubungan seks sesama jenis dilakukan. Karena hal itu berbondong-bondong para LGBT dari berbagai negara meminta hak mereka untuk diterima di masyarakat dengan jati diri  yang sebenarnya, tidak terkecuali di Indonesia. Sering dari kita meminta hak-hak kita tanpa mengetahui kewajiban kita. Hak asasi manusia memang perlu di perjuangkan namun tetap ada kaidah-kaidah yang harus di perhatikan.

Namun dengan semakin banyak isu ini di sebarluaskan, semakin banyak pula pro-kontra yang terjadi, dan semakin kuat juga kaum minoritas ini untuk berkembang menjadi lebih besar. Mengapa? Banyak faktor yang membuat mereka menjadi semakin besar. Ketika mereka merasa diasingkan oleh lingkungannya dan merasa tertekan, mereka akan mencari tempat perlindungan. Sehingga mereka akan berkumpul dengan orang-orang yang dianggap bisa menerimanya. Siapa? Orang yang dianggap sama seperti mereka. Faktor lain ada pada media, dengan percaya dirinya mereka sering tampil di layar kaca, sehingga merekapun  menjadi termotivasi. Di Indonesia, kaum seperti ini dianggap akan lebih cepat di kenal di masyarakat karena perbedaannya walaupun mereka dianggap lelucon. Sehingga banyak sekali kita jumpai di media mengangkat “banci” sebagai penghibur layar kaca.

Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan mereka. Banyak faktor juga yang bisa membentuk kepribadian mereka menjadi seperti itu. Kita kelompokan saja faktor internal dan eksternal. Faktor internal terjadi ketika memang di dalam diri mereka lebih dominan sifat yang berlawanan dari diri mereka yang sebenarnya. Contohnya seorang laki-laki yang lebih dominan sifat perempuannya ketimbang sifat laki-lakinya. Saya pernah mempelajari struktur gen pada manusia, ada penomeran pada gen mereka yang akan menentukan sifat mereka saat mereka lahir. Faktor ini tidak bisa kita pilih, karena ini adalah kuasa Tuhan. Faktor eksternal yaitu dari pengaruh lingkungan. Dari banyak cerita yang pernah saya tahu, ada yang memang mereka memiliki masa kelam. Ada yang mengalami pelecehan seksual sesama jenis ketika mereka masih kecil, sehingga mereka tumbuh dengan perasaan trauma yang mendalam dan menjadikan mereka seperti itu. Selain itu faktor lingkungan yang lain adalah ketika mereka tumbuh di lingkungan yang memang di dominasi oleh kaum homoseksual atau banci dan pada akhirnya mereka menjadi terpengaruhi. Ada lagi yang mereka menjadi seperti itu karena tuntutat ekonomi.

Saya sendiri tidak akan pernah setuju dengan di legalkannya LGBT di Indonesia karena memang sangat menyimpang dari norma, namun saya juga tidak bisa melarang dan mengecam mereka untuk ada dan hidup. Karena mereka manusia dengan kekurangannya yang akan tetap ada di lingkungan kita. Semua manusia akan memiliki kekurangan  yang bermacam-macam. Mereka juga manusia yang memiliki banyak latar belakang. Hal yang paling baik adalah kita jangan pernah menilai orang dari luarnya saja, karena hanya Tuhan yang bisa menilai baik buruknya seseorang. Sebaiknya kita bisa lebih merangkul mereka agar mereka merasa nyaman dan secara perlahan menuntun mereka dengan baik. Setidaknya kita tidak merasa paling benar karena kita bisa menilai buruknya seseorang dan mengingatkan mereka untuk melakukan hal-hal yang baik sesuai norma agama. Kembali lagi pada diri mereka masing-masing. Dosa yang diperbuat adalah urusan dia dengan Tuhannya. Lebih baik kita terus memperbaiki diri kita sendiri. Karena masalah dosa adalah urusan orang itu sendiri.

Memang kita tidak bisa memaksakan cinta kita kepada siapapun. Namun cinta yang abadi adalah cinta kita terhadap Tuhan kita. Saya tidak bisa memaksakan teman saya yang homoseksual mencintai seorang wanita, namun saya menyarankan agar cintailah Tuhan-mu saja dan dekatkanlah dirimu dengan Tuhan-mu. Ketika kita mencintai Tuhan kita, segalanya akan menjadi terasa tenang dan damai. Karena manusia laki-laki atau wanita hanya urusan dunia yang tidak akan kekal. Saya yakin karena manusia akan memiliki jodohnya masing-masing ketika mencapai surga.