Bagai Penjara

pintu kekhawatiran itu seakan terbuka lebar memanggil.

menariku dalam tenang, mengurungku dalam-dalam, dan tak melepaskanku

berusaha tuk cari jalan lain, berlari dan bersembunyi.

walaupun pada akhirnya mereka akan tetap menemukanku

dan sesaat sadarku terpanggil.

khawatir adalah tempat yang selalu singgahi.

sering berasamanya, di saat-saat yang tak ku duga.

menghantamku dengan keras, seakan memar sudah bukan suatu pedih lagi.

menikmatinya dan tak melawan seluruh perasaan.

mencoba berdamai dengan keadaan.

Datang

ketika hal itu datang, aku tak tahu apa yang harus dilakukan.

semuanya terasa runyam dalam penglihatan.

di suatu waktu aku tak mampu, seakan membelenggu, dan memenjarakanku.

kau bisa merasakannya? jelas tidak.

hanya ku dalam jiwa, yang tak tenang.

Senja di Kereta

Senja itu, langit berganti manjadi jingga kemerahan, sinaran itu akan berganti ke tempat lain yang tak tahu dimana. Aku di dalam sebuah kereta yang masih melaju dengan kecepatannya, duduk di samping jendela, menyandarkan tubuh ini di kursi ekonomi yang begitu adanya.  Ku sandarkan kepala ke dinding kereta yang bergetar melaju, dan ku hanya bisa menikmatinya. Sepasang mata ini ikut andil, mereka menangkap seluruh pandangan yang amat luas di hadapnya. Tubuh ini melalui semua yang ada, segala asa dengan segala cara. Segala tawa dan derita. 

Pilu

Dia sudah jatuh berulang kali. Bangkit pun berulang kali. Padahal dirinya sudah habis energi. Dia hanya akan menjadi korban kekecewaannya.

Sudah tidak ada derai air mata di pipinya. Dan dia hanya akan tertidur dengan pilu. Bersama gelap. Dan harap yang pupus.

 

Mimpi Sedetik

buaian selanjutnya:

 

mencintai.

hal yang paling aku benci

padahal akan berujung sama

berakhir lara

 

tidak! tidak! sadarlah!

kau sedang dalam mimpi!

—————————————

tapi,

aku ingin menikmati mimpi ini

satu detik atau

satu menit atau satu jam

atau bahkan,

selama aku bisa?

Pengorbanan

Tak akan ada pengharapan lagi

Aku berhenti di titik ini

Sudah tau rasa kecewa

Perih terluka

Seperti akan binasa

 

Aku mulai lemah, sadar kah kau?

Lemah untuk menguatkanmu

Energi ku habis terkuras untuk dirimu.

Segalanya tentang dirimu.

 

Apakah aku saja,

yang akan berjuang?

Bagaimana denganku?

Yang kerap terluka,

menahan segala rasa

untukmu tetap bahagia.