Ketika

Apakah kalian pernah merasakannya?

Di suatu detik dalam diam,
memandangnya begitu dalam.

Tak perlu beribu untaian kata,
ataupun banyaknya tangkai bunga,
untuk sekedar yakin.

Kau buat aku meyukaimu,
menyukai segala waktu bersamamu.

Tak perlu menjadi sempurna,
ketika kita bisa memandangnya dengan sempurna.

Belenggu

Ketika ku ingat, pedih itu. Semua jadi kelabu, juga hidupku. Hidup ini tiba-tiba runtuh, tertutup debu. Sampai jemariku mengijak kerikil yang tak sadar lukaiku. Aku terlalu takut. Langkahku berat ditemani tangis. Begitu pula tidurku. Tanpa cahaya, aku tersesat.

Kau benar-benar meninggalakanku. Malah kau berlari menjauh. Disini, aku berusaha untuk tinggalkan belenggu kesedihanku. Tinggalkan dirimu. Rasa yang sangat perih. Teramat pedih. Bagai tertusuk dan harus menariknya agar tak semakin menyiksa.

Memang kau sudah meninggalkan luka. Dengan bekas luka yang tak ku lupa. Mencoba kembali meraih kehidupanku. Sebisa mungkin. Walau tanpamu di sampingku.

Sedikit Curahan

     Mungkin beberapa dari yang membaca tulisanku ini bertanya, apakah aku sebegitu melankolisnya menuliskan segala kesedihan yang menumpuk di benak pikiranku? atau mungkin terlalu drama? berlebihan? terlalu mengeluh? (hehe). Memang bisa saja aku di katakan begitu. Aku tidak menampik pula karena itu hak setiap orang kan? tentu saja.

     Aku tidak ingin mencoba membuat yang membaca tulisanku ini mengerti, tapi hanya ingin mengutarakan isi hati. Ya memang aku hanya manusia yang terlalu biasa. Kadang tak mampu menahan sedikit derita cinta atau segala problematika dunia. Lagipula pilihan juga kan, untuk dibaca atau tidak. Entahlah aku hanya menyukai ketika kesedihan atau kegundahanku datang.

     Bagai aku mampu membuat untaian kata yang kadang ku juga tak tahu darimana asalnya. Beberapa runtunan kata tersirat kadang memiliki arti dan makna mendalam bagi penulisnya. Aku menyukainya. Ketika jemariku menari menguntai sebuah kata yang bermakna. Membuatku seperti sedang serius menumpahkan segala perkara dunia. Memang menyenangkan ketika tahu apa yang disuka dan melakukannya. Ku harap kalian menemukannya, yang kalian suka.

Menghindar

     Selang beberapa hari setelah kebahagiaanku meredup. Aku tak tahu mana yang nyata dan hanya ilusi semata. Hari-hariku akan berjalan seperti biasa dengan perasaan yang sama, dalam hampa. Menebar senyum hanya untuk tutupi lelah. Hindari sunyi karena itu akan bunuh diriku dengan mudah. Biarlah ramai jadi latar. Setidaknya bayang itu sulit temukanku. Walaupun pelik dunia tidak akan pernah berhenti. Semua sesuai porsi. Tapi aku tidak bisa selalu sembunyi. Hanya Dia dan memang hanya Dia, yang mampu membuatku hidup kembali. Tanpa satu pun titik keraguan yang menghampiri.

Bagai Penjara

pintu kekhawatiran itu seakan terbuka lebar memanggil.

menariku dalam tenang, mengurungku dalam-dalam, dan tak melepaskanku

berusaha tuk cari jalan lain, berlari dan bersembunyi.

walaupun pada akhirnya mereka akan tetap menemukanku

dan sesaat sadarku terpanggil.

khawatir adalah tempat yang selalu singgahi.

sering berasamanya, di saat-saat yang tak ku duga.

menghantamku dengan keras, seakan memar sudah bukan suatu pedih lagi.

menikmatinya dan tak melawan seluruh perasaan.

mencoba berdamai dengan keadaan.

Datang

ketika hal itu datang, aku tak tahu apa yang harus dilakukan.

semuanya terasa runyam dalam penglihatan.

di suatu waktu aku tak mampu, seakan membelenggu, dan memenjarakanku.

kau bisa merasakannya? jelas tidak.

hanya ku dalam jiwa, yang tak tenang.