Love? Please…

Kadang manusia suka lupa bersyukur. Banyak mengeluh, banyak menuntut, banyak lupa diri, merasa dirinya kurang. Tenggelam dengan kesedihannya yang tak berujung. Terlalu memuja cinta, yang tak lain memuja cinta pada manusia. “Galau” kata mereka. Konsep galau pada diri mereka kebanyakan tentang cintanya yang berjalan tak sesuai rencana, impiannya, harapannya, keinginannya.

Saya pernah di dalam keadaan ini. Sekali, dua kali, sampai pada akhirnya saya mengerti dan sayapun belajar banyak. Cinta manusia tidak akan pernah kekal sama sekali. Itu prinsip saya. Seperti yang saya tulis di tulisan saya yang sebelumnya. Saya hanya tersenyum ketika melihat kebanyakan orang di umur yang beranjak dewasa, terlalu mengkhawatirkan tentang cintanya. Kebanyakan berurusan dengan hati. Sakit hati adalah penyakit masa kini. Tidak dapat disangkal lagi bukan? Rasanya patah hati sudah menjadi trend.

Ketika sebuah pengharapan pada manusia yang berhubungan dengan cinta berujung jadi lara. Segala hal menjadi terasa sendu. Semangatpun menjadi luruh. Hidup terasa hampa. Merasa jadi orang yang paling tersakiti, paling di dzalimi, paling merana di muka bumi. Kegalauan beralurut yang saya rasa hanya menyia-nyiakan waktu untuk hidup.

Ketika saya pernah berada di posisi ini. Saya introspeksi diri. Segala hal yang membuat saya merasa terpuruk membuat saya sadar. Seberapa beruntungnya saya. Mengingat masalah yang saya hadapi adalah masalah yang sangat kecil  dibandingkan dengan masalah orang lain di luar sana. Apalagi hanya masalah cinta. Astaga! Tapi di moment ini saya banyak sadar, banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan. Tanggung jawab untuk keluarga, beragama, dan jadi manusia yang lebih berkualitas.

 

 

 

What’s On My Mind About LGBT

Dari sekian banyak topik pembicaraan yang diangkat di forum-forum, LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan  Transgender) adalah permasalah yang sedang menarik untuk  dibahas saat ini. Sering sekali di kelas saya selalu mengangkat isu tersebut. LGBT dianggap menjadi pernyimpangan sosial yang sangat mengkhawatirkan. Banyak dari sekian masyarakat Indonesia menentang keras dengan adanya LGBT. Apalagi dilihat dari budaya Indonesia yang cukup kental dan sangat sensitif apabila adanya penyimpangan norma.

Pengaruh LGBT ini semakin kuat karena dengan adanya peran media. Media terus menggembar-gemborkan tentang kasus ini. Apalagi semenjak legalnya LGBT di negeri paman Sam, Amerika, yang dianggap menjadi kiblat seluruh negara. Saya juga tidak mengerti mengapa negara tersebut melegalkan LGBT. Padahal banyak hal negatif apabila pernikahan sesama jenis, hubungan seks sesama jenis dilakukan. Karena hal itu berbondong-bondong para LGBT dari berbagai negara meminta hak mereka untuk diterima di masyarakat dengan jati diri  yang sebenarnya, tidak terkecuali di Indonesia. Sering dari kita meminta hak-hak kita tanpa mengetahui kewajiban kita. Hak asasi manusia memang perlu di perjuangkan namun tetap ada kaidah-kaidah yang harus di perhatikan.

Namun dengan semakin banyak isu ini di sebarluaskan, semakin banyak pula pro-kontra yang terjadi, dan semakin kuat juga kaum minoritas ini untuk berkembang menjadi lebih besar. Mengapa? Banyak faktor yang membuat mereka menjadi semakin besar. Ketika mereka merasa diasingkan oleh lingkungannya dan merasa tertekan, mereka akan mencari tempat perlindungan. Sehingga mereka akan berkumpul dengan orang-orang yang dianggap bisa menerimanya. Siapa? Orang yang dianggap sama seperti mereka. Faktor lain ada pada media, dengan percaya dirinya mereka sering tampil di layar kaca, sehingga merekapun  menjadi termotivasi. Di Indonesia, kaum seperti ini dianggap akan lebih cepat di kenal di masyarakat karena perbedaannya walaupun mereka dianggap lelucon. Sehingga banyak sekali kita jumpai di media mengangkat “banci” sebagai penghibur layar kaca.

Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan mereka. Banyak faktor juga yang bisa membentuk kepribadian mereka menjadi seperti itu. Kita kelompokan saja faktor internal dan eksternal. Faktor internal terjadi ketika memang di dalam diri mereka lebih dominan sifat yang berlawanan dari diri mereka yang sebenarnya. Contohnya seorang laki-laki yang lebih dominan sifat perempuannya ketimbang sifat laki-lakinya. Saya pernah mempelajari struktur gen pada manusia, ada penomeran pada gen mereka yang akan menentukan sifat mereka saat mereka lahir. Faktor ini tidak bisa kita pilih, karena ini adalah kuasa Tuhan. Faktor eksternal yaitu dari pengaruh lingkungan. Dari banyak cerita yang pernah saya tahu, ada yang memang mereka memiliki masa kelam. Ada yang mengalami pelecehan seksual sesama jenis ketika mereka masih kecil, sehingga mereka tumbuh dengan perasaan trauma yang mendalam dan menjadikan mereka seperti itu. Selain itu faktor lingkungan yang lain adalah ketika mereka tumbuh di lingkungan yang memang di dominasi oleh kaum homoseksual atau banci dan pada akhirnya mereka menjadi terpengaruhi. Ada lagi yang mereka menjadi seperti itu karena tuntutat ekonomi.

Saya sendiri tidak akan pernah setuju dengan di legalkannya LGBT di Indonesia karena memang sangat menyimpang dari norma, namun saya juga tidak bisa melarang dan mengecam mereka untuk ada dan hidup. Karena mereka manusia dengan kekurangannya yang akan tetap ada di lingkungan kita. Semua manusia akan memiliki kekurangan  yang bermacam-macam. Mereka juga manusia yang memiliki banyak latar belakang. Hal yang paling baik adalah kita jangan pernah menilai orang dari luarnya saja, karena hanya Tuhan yang bisa menilai baik buruknya seseorang. Sebaiknya kita bisa lebih merangkul mereka agar mereka merasa nyaman dan secara perlahan menuntun mereka dengan baik. Setidaknya kita tidak merasa paling benar karena kita bisa menilai buruknya seseorang dan mengingatkan mereka untuk melakukan hal-hal yang baik sesuai norma agama. Kembali lagi pada diri mereka masing-masing. Dosa yang diperbuat adalah urusan dia dengan Tuhannya. Lebih baik kita terus memperbaiki diri kita sendiri. Karena masalah dosa adalah urusan orang itu sendiri.

Memang kita tidak bisa memaksakan cinta kita kepada siapapun. Namun cinta yang abadi adalah cinta kita terhadap Tuhan kita. Saya tidak bisa memaksakan teman saya yang homoseksual mencintai seorang wanita, namun saya menyarankan agar cintailah Tuhan-mu saja dan dekatkanlah dirimu dengan Tuhan-mu. Ketika kita mencintai Tuhan kita, segalanya akan menjadi terasa tenang dan damai. Karena manusia laki-laki atau wanita hanya urusan dunia yang tidak akan kekal. Saya yakin karena manusia akan memiliki jodohnya masing-masing ketika mencapai surga.

New Year Team

Yash. Hello 2016! Happy New Year Everyone. Semoga semua hal yang belum tercapai tahun kemarin bisa mulai tercapai di tahun ini. Jangan lupa pake usaha lah, masa mau doa doang gak ada usahanya. Yea sok wise.

New Year’s Eve kemarin cukup menyenangkan. Bersama teman-teman SMA gue dan pacar-pacarnya. Kita cukup mendadakan sih ngerencanainya. Open room di Ra Residence buat sekitaran ±10 orangan lah ya. Lokasinya itu di daerah TB. Simatupang, sekitaran Fatmawati, persis di belakang All Fresh, di Jalan Intan (yea sama).

Si Ra Residence ini lumayan asik sih tempatnya buat rame-rame, karena ini tuh fasilitas apartement tapi adalah hotel. Recommended lah. Ada swimming pool, gym, dan blabla. Apalagi kalo buat pt-pt gitu keitung murah. Worth!.

Nah balik lagi ke NYE yah. Sebelum nyampe Ra gue dan Shita nganter Bagus dulu buat potong rambut di Manhattan daerah Panglima Polim. Gue dan Shita akan selalu sepaket karena rumah kita deketan, daerah Kemang, perbatasan Antasari. Bagus pun dateng dengan boxer dan kaos bekas gorparty… selalu tergembel. Akhirnya kita otw Manhattan. Bagus pun mulai potong rambut, sementara itu gue dan Shita selalu start rumpi ceria. Panjang lebar dan gasadar dari rambut Bagus yang gondrong udah cepak lagi aja. Setelah itu otw jemput Lindy di daerah Gandaria, dan langsung otw ke Ra. Ternyata jalanan cukup macet. Gue kira orang-orang pada ngungsi ke luar kota -_-, sengungsi-ngungsinya kayanya Jakarta cuma bisa hening ketika Musim Lebaran tiba.

Nyampe Ra, kita berpisah dengan Bagus karena DIA GJD IKUT. Selalu ngeselin. Kita di jemput Anjas (pacarnya Lie) di lobby buat naik ke atas. Karena Lie-Lie, Anjas dan Rimbun udah pada stand-by di Ra dari sekitar jam 12an. Setelah itu kita langsung menuju swimming pool karena Lie-Lie dan Shita yang bm nyebur. Gue sama Lindy juga bm sih cuma…. gamungkin berenang karena harus keramas dan setelah keramas rambut Gue dan Lindy adalah akan jadi kribo mania dan mager abis harus nyatok-nyatok. Jadi kita sok main trampolin, cardio yang cuma lima menit udah kaya nenek-nenek, berenang sih tapi cuma masuk badan aja gak basahin kepala HAHA, dan akhirnya jacuzzi-an yang gak panas, karena kita gatau ngaturnya gimana (lol). Dan ternyata udah menuju maghrib dan kita pun naik ke atas.

Bertambahlah di atas udah ada Jamet dan Ais. Kita pun mandi bla-bla dan siap-siap. Hilfi dan Ryan (pacarnya Hilfi) pun dateng. Makin rame deh. Gak lama kemudian Danu yang dateng, Iqbal dateng, terus Ridho. Karena laper, akhirnya kita rebus indomie. Mama Lie ternyata bawa stock Indomie (tetep indomie) (syg Lie). Kita pun makan bertiga Gue, Shita, Lindy semangkok gede, udah kaya porsi babon 😦 tapi jarang-jarang kok hehe. Setelah itu Gue, Shita, Lindy, Iqbal, Ais nyari makanlah keluar, dan memutuskan beli Big Box PHD. (makan lagi loh).

Sambil nunggu jam 00.00 kita ngobrol, foto-foto, nonton, dan segala rupa. Gak sadar udah detik-detik menuju 00.00, kita pun lari ke balkon yang tempatnya strategis abis. Pemandangannya langsung Jakarta dan sekitarannya. Pas tepat 00.00 hebringlah kita teriak-teriak, tiup-tiup terompet, semua sudut keluar kembang api. Mewarnai langit malam kota Jakarta (aciegitu). Tapi emang keren banget semua sudut kalo di panorama mode camera semuanya kembang api gak putus-putus. Setelah itu kita kembali ke kamar.

Gak lama kemudian Bagus tiba-tiba dateng. Ya akhirnya mereka pun berbincang-bincang dan karena gue ngantuk, gue tepar duluan. Sekitar jam tiga-an gue kebangun dan di samping gue udah ada Shita, Lindy, Lie-Lie. Dari ruang tamu cowo-cowo masih pada ngobrol, karena gue terhaus akhirnya gue pun keluar minta minum dan kembali tidur. Pagi-paginya, gue dan lindy (berencana) berenang. Tapi karena waktu kita mepet, akhirnya lagi-lagi gak basahin kepala karena pasti ribet. Jadi kita berdua cuma jacuzzi-an aja sambil rumpi selalu.

Setelah itu kita mandi dan akhirnya siap-siap pulang. Dan akhirnya kita selesailah NYE 2016 kita! Semoga tahun ini lebih berkah :’)

Dewata with My Bros (1/2 Sisters)

Setelah akhirnya naik kapal dengan bawaan yang banyak akhirnya. Kali ini gue gak mau duduk di atas kapal karena sepertinya gue gak akan di goreng untuk kedua kalinya. Akhirnya gue pun memilih untuk duduk di dalam dan di samping jendela. Rasanya liat air laut yang masih biru, bersih, rumput-rumput laut, matahari pagi, kayanya berat buat ngeakhirin liburan ini.

Perjalanan makan waktu kurang lebih sekitar tiga jam dari Gili Trawangan sampai Bali. Bedanya gue tidur menghindari mabuk laut. Di samping gue, ada dua orang Prancis juga yang sama-sama tepar. Isi di dalem kapal adalah rame banget. Tapi gue mulai menemui orang Indonesia. Sesampai gue di pelabuhan Bali (lupa apa namanya), hal terberat gue adalah MENURUNKAN CERRIER dan MENGGENDONGNYA!. Coba dibayangin ya, carrier yang full 45 liter harus gue gendong sendiri dari tanah sampai menuju pundak gue yang keadaanya masih perih karena kebakar matahari dan bodohnya outter gue bahannya kasar dan di tangan kanan gue adalah hand bag yang terisi full. Walaupun seribet itu tapi akhirnya gue menemukan travel yang akan mengantar ke tujuan yang gue mau.

Ohiya gue lupa kasih tau kalo ticket speed boat yang harganya 300rb dari Gili menuju Bali udah termasuk travel dari pelabuhan sampe hotel yang kita tuju. Seinget gue travel itu bisa nganterin kita ke daerah Kuta, Sanur, dan tempat yang sering jadi destinasi orang deh.

Nah di dalem travelo itu gue duduk sama keluarga yang terdiri dari istri (Australi), suami (Indonesia), baby (Indo), bisa bayangin dong selucu apa babynya!? dan sepanjang jalan gue bercanda sama babynya. Gemes banget. Sampe pada akhirnya gue turun karena gue melihat penampakan teman-teman jadi-jadian gue dari kaca. Dan gue pun meminta bapak supir buat menurun kan gue. Dan gue pun say goodbye ke baby-nya dan dia nangis huhu shoo cuteee.

Seperti biasa ritual yang sering gue lakukan dengan teman-teman gue adalah “hebring” dimanapun dan kapanpun. Temen jadi-jadian gue adalah Mala dan Lulu. Ya nama asli mereka sih Ikmal dan Luqman cuma kan udah gue bilang dari awal mereka adalah wanita jadi-jadian (loves). Ini yang ku maksud mereka bisa jadi as a brother dengan penampakan sister. Hmm

Mereka terkaget-kaget aja gue bawa carrier segitu gede sendiri. Secara gue adalah cewek kan dan karena mereka adalah ter-gak kuat aja kalo harus bawa itu sendiri. Antara gue bingung sebenernya yang the real cewek adalah siapa sih……..Sesampai di hotel gue langsung mandi karena tidak mau menyiakan waktu yang tinggal bentar lagi. Gue pun memutuskan nyewa motor karena kalo gue nyewa mobil, yang bisa nyetir adalah gue doang selain budget mulai menipis karena ini liburan dadakan, dan MAGER aja kemana-kemana gue yang nyetir HHH! Motor adalah hal yang instan, cepet, gampang, bisa nyelip, segalanya. Jadi gue tinggal duduk manis aja karena gue juga gak bisa bawa motor hehe.

Tujuan pertama kita memutuskan untuk ke Sea Circus, nyemil-nyemil najis gimana gitu, dan setelah itu kita ke Laca-Laca yang masih daerah seminyak juga. Menjelang maghrib karena gue bm nginjek pantai jadi menikmati sunset di pantai Legian dan setelah itu pulang ke hotel.

Kita tidak akan melewatkan malam di hotel begitu saja. Dan temen gue dari SMP yaitu Tito lagi di Bali juga akhirnya berencana ketemuan. Dia juga sama dua temen cewe SMAnya dan ada Anta yang temen SMP gue juga dan dia emang domisili Bali. Sebelum itu kita memutuskan untuk cari makan. Cari Sate Padang. Jauh-jauh cuma nyari Sate Padang karena adalah wajib hukumnya. Makan apakek gitu ya ayam betutu kek, babi panggang kek, eh ini malah Sate Padang. Emang bener-bener. Ya akhirnya bm kita-pun kesampean. Sate Padang. Selagi kita nunggu yang lain, kita sempet jalan-jalan di Kuta, dan akhirnya kita menuju La Favela dan bertemu dengan Tito and The Gangs.

Ada Levina dan Syifa yang temennya Tito, akhirnya gue ketemu cewek beneran. Walaupun baru kenal tapi ngobrolnya udah ngalur ngidul. Setelah itu kita tetep cari makan lagi. Makan MCD. Yang tau kan makan MCD pagi pagi adalah dosa besar?!. Cuma karena laper… Ya yaudah. Dan kita pun masing-masing balik ke hotel.

Keesokannya. Atas rekomendasi Tito, kita bertiga pergi ke Blue Point. Awalnya kita berencana ke Ubud, cuma karena ngejar waktu dan tempat akhirnya di tengah perjalanan kita muter balik dan memutuskan untuk ke Blue Point aja. Dan akhirnya gue nyebur!!!!!! Yash akhirnya badan gue masuk air :'(. Karena di Blue Point bentuknya kaya mini pool gitu. Tapi dia letaknya paling jauh dan kalo mau ketemu pantai harus lewatin track tangga yang terjal dan secara gue agak takut tinggi jadi gue adalah deg-degan setengah mati.

Setelah dari Blue Point udah menuju maghrib akhirnya kita balik, dan keadaannya adalah laper banget bm steak. Jadi kita langsung otw ke Seminyak dan berdasarkan rekomendasi Tito juga kita akhirnya setelah muter-muter nyari resto yang enak, akhirnya kita ke Straw Hut. Dan setelah itu kita pulang ke hotel. Sadly, itu adalah hari terakhir kita di Bali. Dan dramanya setelah sampe hotel seperti biasa semuanya pada drop. Tolak Angin adalah The Real Penyelamat.

Dari subuh sekitar jam 6 kita udah siap-siap ke bandara. Pesawat gue Air Asia jam 10an sementara Mala Lulu Citilink jam 9an. Mereka berangkat duluan dan gue sendiri. Gak kerasa sih nunggu sejam, ditemani Bread Papa’s dan The Goods Coffee. Dan gue suka kita gue punya moment dengan diri gue sendiri. Ngeliatin orang bolak-balik, liatin suasana, dan makanya gue gak takut kalo disuruh nyebrang pulau sendiri atau pun apalah. Dan gue lebih suka suasana pagi.

Akhirnya gue balik Bandung dan mereka setia nungguin gue di Bandara, dan balik bareng karena emang kosan kita searah semua. Dan kenapa gue balik Bandung? bukan Jakarta? Karena jadwal gue padet di kampus harus rapat ini itu. Kembalilah ke rutinitas.

 

A Long Story From Gili Trawangan

Hari selanjutnya kita siap-siap buat pergi lagi ke Gili, kita di jemput dengan mobil yang kreatif abis. Jadi mobil itu bentuknya kaya mobil satpol PP buat ngangkutin orang. Dan mobil itu kaya “angkotnya” Nusa Lembongan gitu deh. Semua orang yang pergi ke Gili di jemput pake mobil itu buat menuju kapal. Sampe di pinggir pantai, kita disuruh naik kapal kecil gitu buat ganti kapal gede di tengah air. Nama kapalnya adalah EKA JEYEUS alias Eka Jaya. Kita milih duduk paling atas dan itu seru banget. Musik reggae, dan angin kenceng, dan matahari di atas kepala. 4 jam diatas kapal ternyata gue udah jadi Nigga secara instan. Tanpa sunblock. Gapake sunblock. SUNBLOCK GA DIPAKE. Gue mampus. Kulit gue merah, kebakar, dan belum terasa terlalu perih. Begitu juga dengan hidung gue yang bikin gue kaya badut.

Karena gue berniat mau pulang pake pesawat lewat Bandara Bali, dan menyusul teman-teman wanita kw 1000 gue, akhirnya gue pun langsung pesen tiket pulang dan emang harus H-2 karena selalu penuh.

Sampe di Gili tragedi pun terjadi. Kita gatau hotel yang kita pesen secara online dimana letaknya. Kita jalan sekitar sejam cuma buat nyari tata letak tu keberadaan hotel tersebut. Semua orang yang kita tanya gak ada yang tau sama sekali. Buta arah. Hopeless. Tapi akhirnya WE FOUND IT. ternyata letanya di atas toko apotik. Nama hostel kita adalah DAVY JONES. Hostel tersayang selama di Gili.

Jadi ceritanya begini: Pas kita sampe disana, tempatnya adalah pewe buat takaran hostel backpacker. Ada satu cowo tinggi bule yang kerjaannya cuma main iPad. Dan gue bingung ni orang kok gabut amat. Lupakan tentang orang itu. Akhirnya kita tanya yang punya tentang kamar yang kita udah booked dan ternyata semuanya sudah PENUH. Kita pun mendadak kelimpungan. Luckily, yang punya adalah orang ter humble yang ada saat itu. Kita bener-bener bingung mau kemana dan ini baru setengah perjalanan. Sementara kita gaboleh over budget. Ohiya yang punya Davy Jones Hostel ini biasanya di panggil Abang. So kita panggil dia Abang dan bener-bener langsung akrab cerita ngalor-ngidul. Sementara dia dumel dengan aplikasi online pencari hotel yang menurut dia bermasalah dan sangat merugikan. Ternyata aplikasi itu sesat juga. Gue dan temen gue udah booked dan udah bayar dan ternyata kamar yang pesen gak ada. Sangat mengecewakan. Akhirnya disitu kita di kasih tumpangan tidur gratis di sofa dan tanpa bayar. God Bless. Yang penting ada tempat. Karena disitu kita merasa udah kotor abis dan perlu mandi.

Kita ketemu orang Indonesia juga ternyata, sekita 6 orang nginep disitu. Say Hi! dan bla-bla ngobrol sesama orang Jakarta. Abis itu kita pergi  buat jalan-jalan kecil, karena gamungkin cuma di hostel mager-mager-an walaupun badan remuk. Nyampe lagi di hostel udah penuh sesama backpacker, dari sekumpulan orang German yang umurnya gak beda jauh, Belanda, Australia. Hostel pun penuh sama kita karena Abang selalu bikin Quality Time. Ngobrol bareng. Disitu semua. Dan akhirnya gue mandi setelah perjalanan jauh (Finally!)

Setelah itu…. Abang ngajak kita pergi keluar sekitar jam 10an dan gak lama abis itu kita langsung mau pulang, karena ntah kenapa gue tercapek aja. And yes, I got sun burnt and it’s really bad. Kulit gue ngelotok-ngelotok, dan akhirnya gue dikasih oil something gitu. Dan kita pun akhirnya tidur. Gue kebagian tidur di office, kecil sih, yg penting bisa tiduran. Tapi entah kenapa gue bisa pindah ke sofa depan, kayanya rada ngelindur.

Pagi-pagi setelah itu. Saatnya pergantian penginap di Davy Jones. Sadly orang-orang dari German harus pergi karena mereka harus ke Gili Air, begitupun sekumpulan orang Jakarta yang juga harus pulang. Jadi sepi sih, tapi daripada bosen di hostel, akhirnya gue nyewa sepeda dan jalan-jalan ngelilingin pantai sampe jauh banget. Sampe ketemu the most popular spot in Gili. Ombak Sunset. Yupp semua orang adalah foto disitu aja sampe rela ngantri kaya mau naik rollercoaster.

Akhirnya kita pulang dari setelah maghrib. Karna ada satu tamu yang delay, jadi kamarnya dikasih ke gue HEHE. Akhirnya gue ketemu kasur! Pack-pack-in barang karena besoknya gue harus nyebrang ke Bali tanpa Bagus dan Te. Nyusulin another squad from Bandung. Sama-sama dua orang cowo. Cowo sih. 1/2 sih kali ya. Hm

Pagi-paginya Bagus dan Te nganter gue ke pantai buat perpisahan huhu. Setelah nunggu sekitar 30menit akhirnya kapal gue dateng. Hal yang gue pikirin pertama adalah. Apakah gue kuat bawa semua barang-barang gue sendiri. Dan karna itu banyak banget! Tapi gue yakin-yakinin diri aja pasti bisa.

autographintan

A Day in Nusa Lembongan and Nusa Ceningan

Mulai sampai Nusa Lembongan warna airnya udah seger banget. Biru. Di benak gue rasanya mau langsung nyemplung. Cuma gamungkin. Alay bangetnya keliatan. Sampailah di Nusa Lembongan, kita langsung di serbu orang-orang sana di tawarin segala akomodasi. Nusa Lembongan adalah bm gue dan Bagus jadi Te cuma nemenin. Sementara Te dan Bagus bm nya adalah Gili Trawangan. Dan ada satu bapak-bapak itu yang ngurusin hidup kita di Nusa Lembongan. Saat itu kita langsung pesen tiket fast boat buat besok ke Gili, karena kata bapanya harus h-2 min. h-1 buat dapet kapal ke Gili. Cukup mahal sekitar 300an ribu/orang. Dengan usaha nawar pula, dan skill nawar gue keluar akhirnya. Selain fast boat, si bapak itu ngurusin penginapan plus motor.

Biaya hidup disini bisa di bilang mahal buat fasilitas yang biasa aja. Dan sampe hotel kita langsung berburu tebing (yea). Letaknya ada di Nusa Ceningan dan kepisah sama Nusa Lembongan tapi ada jembatan yang panjang banget buat ngehubungin dua pulau tersebut dan cuma bisa di lewatin pake motor. Kita agak nyasar karena waze gak selalu bener. Awalnya kita nemu tebing yang cuma 8meter dan buat loncat kena harga 50ribu buat dua kali loncat. Tapi bukan tebing ini bm gue.  Tapi akhirnya kita menemukan Blue Lagoon, dengan tinggi tebing 13meter, tapi ada yang janggal.

Setelah gue amati gak ada penjaganya. Terus semua saungnya udah pada rubuh. Cuma ada sisa-sisa botol beer, dan ada coretan graffity. Dan gue baru sadar kayanya tempat loncat ini udah di tutup. Gue kecewa seberat-beratnya. Bm gue tak terlaksanakan. Akhirnya gue pulang dengan kecewa. Di salah satu warung kita berenti buat beli minum dan gue kepo sama ibu-ibu warung disitu tentang “Jumping Cliff” di Blue Lagoon. Dan ternyata emang bener, tempat itu di tutup karena ada orang yang kebawa hanyut ombak. Gue agak ngeri juga sih dengernya cuma yasudahlah. Akhirnya kita pulang ke penginapan, dan setelah maghrib kita berencana untuk nongki ala-ala. Dan akhirnya kita nongkrong di tempat yang membatalkan membuat judul perjalanan kita sebagai backpacker. Karena ini bagian hedon (hm).

From Java To Bali

 

Perjalanan ini sudah direncanakan sejak dua bulan sebelum keberangkatan. Saat itu adalah saat ketika ngerasa harus pergi. Menghilang dari peradaban. Entah pergi kemana yang penting ngerasain waktu sendiri di sebuah perjalanan. Karena mumet berat.

Perjalanan ini ditemani oleh orang-orang random alias temen SMA. Sebut saja Bagus dan Te. Awalnya gue bukan satu-satunya cewe yang ikut. Sayangnya temen cewe yang lain berhalangan hadir jadi takdirnya gue adalah cewe sendiri dan nekat. Berangkat dengan kereta, karena emang niatnya mau jalan-jalan jauh dan mursida (murah). Dimulai dari Stasiun Ps. Senen jam 10 pagi tujuan Gubeng, Surabaya yang menempuh waktu sekitar 16 jam perjalanan.

Pertama kali gue naik kereta sejauh dan selama itu. Kereta kita adalah kereta ekonomi yang fasilitasnya ya STD aja (standar). Bangku yang gak seempuk itu. Makanan yang gak seenak itu. Bantal yang ya berguna dikit buat naro pala kalo tidur (hm). Bangku yang saling adep-adepan, dan satu bangku itu adalah isi kita bertiga yang empet-empetan. Untunya kita adalah slim. Kecuali Bagus Adi Prabowo yang agak ukuran medium (gendut bgt aslinya, yea cnd). Di depan kita adalah pasangan kakek nenek yang gak tua-tua amat. Mereka mau ke Jogja katanya. Karena gue ajak ngobrol dikit sih jadi tau. Dan kebetulan si neneknya minta tukeran arah bangku karena takut mual. Ohiya satu lagi sejajaran neneknya ada mas-mas yang random gak kenal. Dan untungnya keadaan kereta waktu itu gak begitu rusuh. Jadi ya space masih ada lah..

Bawaan gue cukup banyak. Biasa lah cewe ya. Temen gue bilang tas gue adalah isi lemari yang di pindahin. Ya cukup lah tas carrier 45L sama tas jinjing yang lumayan gede. Tapi bawaan perjalanan kali ini adalah bawaan tersedikit gue, karena gue bawa carrier bukan bawa koper. Jadi harus picky bgt bawaannya. Gue cuma bawa satu buah sendal traveling karena gamau berat. Dan sendal kaya gini recommended bgt sih. Bagus bawa carrier yang 75L entah emang gede bgt jd gue bisa nebeng-nebeng barang bawaan dikit LOL. Sementara Te cuma bawa tas ransel kecil. Gue dan Bagus pun heran. Sementara Te cuma kasih pertanyaan ke kita “Lu pada bawa apaan aja dah? Banyak-banyak amat”. Entah siapa yang salah z.

Awal perjalanan Te langsung nodong Antimo. Dan semenjak itu gue ngerti kenapa Antimo ampuh banget bikin orang gak mabok perjalanan. Yaitu dengan cara menidurkan orang yang mengkonsumsi obat tersebut sampe nyampe tujuan. Ya jelas lah gimana mau mabok kalo orangnya tidur mele. Tapi saat itu antimo gak bekerja pada tubuh gue (yea). Sepanjang perjalanan yang 16 jam itu gue cuma tidur dikit. Gue lebih memilih menikmati perjalanan dan emang rasanya gue lepas penat banget. Berhubung gue abis stress berat. Pas itu kayanya hidup gue lega sesaat. Lebay sih tapi ini seriusan. Mangkanya kalo lo penat, do travel. It helps a lot. Dari pemandangan kota sampe pemandangan rumah pinggir kereta dari pemandangan kumuh sampe pemandangan bersih dari pemandangan ijo semua sampe hutan sampe sawah sampe orang lagi pada mandi di kali sampe kali kotor sampe kali bersih sampe liat bocah nimpuk kereta gue. Dan dari pagi hari hingga dini hari. Di kereta gue nyewa bantal 5ribu, makan banyak banget yang rasanya B aja. Kebanyakan makan pop mie sih 😦 sampe hamil pop mie. Sampe gak kerasa udah masuk malem. Dan mulai terasa sangat dingin. Untung gue siap tempur. Memalukannya Bagus bawa sarung dan selimutan aja gitu pake sarung di kereta. Emang dia adalah udah ekonomi banget. Dan sepanjang jalan Te tidur udah kaya mati suri. Kita sempet nyoba nonton film di laptop dan akhirnya pusing. Tq. Engga lagi deh. Di kereta banyak ngobrol ngalor ngidul sampe intinya gak kerasa udah sampe Gubeng, Surabaya.

Sampe Gubeng sekitar jam 2.30 pagi. Dan akhirnya kita nyari lapak buat tiduran karena  masih nunggu kereta selanjutnya dari Gubeng menuju Banyuwangi sekitar jam 9 pagi. Dari subuh kita duduk di depan stasiun dan ngadep jalan raya. Dan saat itu masih gelap banget, tapi bukan kita aja yang ngemper di jalan, banyak banget orang-orang lain, dengan beda tujuan. Gue pun yang sebenarnya manusia pelor akhir tidur sampe matahar terbit. Dari jalanan kosong sampe rame kendaraan. Dan malu dikit sih ngemper cuma lama-lama bodo amat wkwk. Banyak banget orang-orang yang jualan di depan stasiun. Dan hasrat gue ngemil tak tertahankan.

Kereta selanjutnya adalah kereta eksekutif dari Gubeng menuju Banyuwangi. Dan nyamannya beda jauh lumayan deh. Tapi urusan makanan tetep ya seadanya. Mau nangis tapi kalo laper apa daya. Awalnya kita bertiga rebutan duduk yang sendiri biar kali-kali orang sebelahnya kalo gak bule, ya orang cakep lah. Berhubungan kursi ini kan buat 2 orang doang. Dan akhirnya gue yang duduk sendiri (yea). Tapi sebelah gue ternyata adalah mba-mba yang kerjaannya dia di sepanjang jalan adalah “ck”-in segala hal. Dan gue rasanya pen nanya “lah mba lu napa dan dumel mele”. Terganggu sedunia. Dan terganggunya lagi baru banget awal masuk kereta eksekutif dengan kekontrasannya dengan kereta ekonomi lagi-lagu Bagus Adi Prabowo mengeluarkan ke-alay-an akutnya. Gimana gak alay dia teriak teriak “CAH NI KERETA” “PE-EPE-CA-ACA-AH” “PECAH BGT INI KERETA” ya singkatnya ke alayan dia takjub naik kereta eksekutif begitulah. Gue dan Te hanya bisa geleng-geleng.

Ditengan perjalanan ada segerombolan bule. Alias se RT bule + sama RW nya naik kereta yang gue terka terka dia mau daki gunung. Seperti biasa mereka ribet banget dalem kereta dan toa-toa. Selama di perjalanan gue jarang banget ke toilet karen gakuat jorok. Mau nangis tapi kali ini gue harus bener-bener ke toilet. Ternyata pas mau otw toilet ada bapak-bapak bule dengan tujuan yang sama kaya gue. Tapi hal yang janggal gue rasakan. Bau toilet plus bau badan. Gue masuk toilet dengan kemampuan berenang gue alias tahan napas. Dan gak jadi kerena gak kuat. Pas gue keluar. Dengan bapak-bapak bule yang sedang menunggu gue mulai mengendus bau yang sangat tidak enak. Bau bau orang jalan dari Arab sampe Papua. Indra penciuman gue gak salah. Gue pun nyium bau diri sendiri dan please gue gak bau kok. Dan gue pun ngibrit ke bangku tempat duduk gue. Dan gue menyadari satu hal. Mba-mba sebelah gue pantesan dumel besar-besaran ketika se Lurah bule itu pada masuk kereta (hm). Lupakan harum itu. Di kereta ini gue yang kaya orang mati suri alias tidur mulu dan antimo ternyata bekerja. Setiap bangun tidur gue selalu laper. Gatau kenapa. Sampe temen gue menganehkan gue karena setiap bangun tidur pasti nodong makanan. Akhirnya tidak terasa sampailah di Banyuwangi dan akhirnya kita jalan gak begitu jauh dari stasiun ke pebuhan.

Kita naik kapal ferry yang cukup besar yang bisa naikin motor mobil dan kawan-kawan. Dan akhirnya memilih tempat duduk yang paling atas alias outdoor biar bisa liat pemandangan. Kita cuma butuh waktu sekita 1,5 jam buat sampe di Bali, pelabuhan Gilimanuk. Dan dari situ kita masih agak bingung gimana cara untuk menuju Denpasar kota. Karena tata letak si pelabuhan itu sangat di ujung pulau Bali. Gak jauh dari pelabuhan, kita menuju Terminal dan akhirnya naik metro mini-mini-nya lagi versi mini deh, dan empet empetan dan cuma bisa jalan kalo si mobil itu udah penuh. Disitu ada tragedi ibu-ibu bersama keluarganya. Ibu-ibu itu super duper cerewet banget segala hal di teriakin, ya ampun. Tapi untungnya karena dia cerewet si mobil bisa jalan lebih cepet. Perjalanan ini adalah perjalanan terberat gue. Lebih berat daripada perjalanan kereta 16 jam. Lebih berat daripada ngemper di depan stasiun. Sumpah. Karena kondisinya adalah terempet-empetan yang pernah ada. Dan sepertinya gue butuh tabung oksigen saat itu. Dan taulah bau mobil beserta mesin dan bensinnya. Gue gak lepas dari waze. Gue amatin tuh waze dengan penantian dan penuh harap. Pengen cepet-cepet sampe. Saat itu juga.

Sampailah di Terminal Ubung! rasanya gue mau tumpengan. Waktu menunjukan kira-kira pukul 10 malam. Udara bebas. Tanpa bau mesin dan segala rupa. Tujuan kita selanjutnya adalah Sanur. Dan akhirnya kita pesen satu angkot buat anter kita ke hotel yang ada di Sanur. Sampai di hotel dengan aplikasi yang populer itu kita dapet potongan harga. So happy. Dan hotelnya sangat tidak mengecewakan. Rasanya ketemu kasur adalah surga dunia. Rasanya ketemu tv adalah sesuatu banget. Segala hal bersih-bersih beres-beres jam 12 malem. Akhirnya istirahat. Cuma sampe jam 6, kita harus udah bangun saat itu juga.

Tujuan selanjutnya adalah ke pantai di sanur buat naik transportasi umum yaitu kapal yang cuma ada sebelum jam 12 siang. Kita naik kapal tersebut untuk menuju ke Nusa Lembongan. Kita sengaja ambil kapal paling pagi karena gue dan Bagus berniat untuk loncat ke air dari tebing yang tingginya 13 meter yang ada di Nusa Ceningan. Dan buat loncat itu gaboleh lebih dari jam 12. Karena, bahaya. Ombaknya gede banget kalo diatas jam 12. Ngeri kebawa anyut juga kan. Nah di kapal itu makan waktu sekita 3 jam buat sampe. Dan gue sangat amat merasa mual. Tips menurut temen gue jangan liatin ombak. Dan gue mual karena liatin ombak (hm).