Sembunyi

Berkali-kali.

Sesak nafasku, seperti akan berhenti jantung ini.

Tidak, bukan karena benda tajam, hanya sebuah kata yang begitu tajam.

Jiwa ku seperti akan lepas.

Rasanya aku ingin tenggelam.

Pura-pura tuli dan tak perduli.

Suasananya terlalu hening, suaranya yang pelan terdengar sangat nyaring.

Tidak aku tidak bisa menenggelamkan diriku.

Padahal aku hanya ingin menghindar.

Aku hanya ingin bersembunyi dalam tenggelamku.

Tolong! siapa pun bantu aku?

Kalau tidak tenggelam mungkin aku bisa menghindar?

Bersembunyi dengan senyumku.

Aku sangat tidak nyaman!

Rasanya aku ingin teriak!

Tapi tidak, ku urungkan niatku.

Nanti kau yang terluka.

Aku tidak tega.

 

Advertisements

Pertemuan Pertama

Malam kala itu, pukul tujuh mungkin. Di sebuah rumah konveksi. Aku masuk dan melewati ruangan pertama yang penuh dengan tumpukan bahan, potongan kain yang bertebaran di lantai, pakaian tergantung entah berapa macam dan mesin-mesin jahit. Semua terlihat sibuk. Empat atau lima orang pekerja bersama tanggung jawabnya.

Lalu aku melangkah ke ruang selanjutnya. Ruang utama tidak terlalu besar dan cukup sempit dan penuh dengan barang-barang. Barang untuk dijadikan pakaian. Tumpukan baju, kain, bahan, namun ini lebih seperti ruang kerja dengan komputernya. Bersama bapak pemilik konveksi. Dengan putung rokok di tangannya, dia bercengkrama (ku pikir awalnya di ruangan ini tidak diperbolehkan merokok). Lalu aku hanya diam duduk di sudut ruangan. Mengamati perbincangan. Dan ku berulang kali mendengar satu nama yang selalu disebut sebagai bahan obrolan mereka, bahan candaan mereka.

Sampai pada akhirnya aku bosan dan ku raih buku, The Other Hand karya Chris Clave dari dalam tas jinjingku. Berniat untuk memasuki dunia bacaku, menghilang dari perbincangan yang tidak aku mengerti, menenggelamkan diri untuk beberapa saat kedalam bukuku. Beberapa menit dan lembaran ku habiskan. Ku mulai terbuai dengan cerita Little Bee dan Sarah. Namun sekejap ada suara langkah kaki yang mendekat memasuki ruangan, mengganggu indra pendengaranku, menarikku ke atas permukaan, fokusku teralihkan pada seseorang yang baru datang.

Ku melirik ke arahnya. Menatap pakaiannya yang membuatku bertanya. Apakah dia seorang tentara? atau perwira? Rasanya tubuhnya terlalu berisi untuk menjadi perwira atau tentara. Dan dia terlalu berbulu untuk menjadi itu. Perkenalan singkat sekedar menyebutkan nama dan jabatan tangan ala kadarnya mengawaliku untuk mengamatinya. (Oh ini orang yang terus disebut dalam pembicaraan sebelumnya). Aku ingat temanku bilang, dia pernah berada di SMA yang sama denganku. Mulai ku amati lagi wajahnya. Sangat asing. Ku berpikir keras. Siapa? Aku tak pernah melihatnya dulu. Namanya pun tak pernah ku dengar. Masih sangat asing. Lalu aku menyerah dengan tanya dalam benakku. Dan tak peduli akannya.

Setelah sekian detik yang ku buang sia-sia hanya untuk mengamatinya, ku kembali pada bukuku. Dan dia dengan perbincangannya. Suara samar-samar perbincangan mereka terdengar olehku, terbayang siapa yang sedang berbicara tanpa harus melihat ke arah mereka.

Sebelumnya temanku bilang bahwa dia pendiam, pemalu, kaku, dan memiliki dunia sendiri. Baiklah akhirnya ku simpulkan dia adalah orang angkuh dan aneh. Makin ku tak perduli dengan kehadirannya. Dan tak akan ku berusaha membuka pembicaraan dengannya. Ku coba lagi singkirkan pemikiranku tentang angkuh, aneh itu dan ku alihkan pada bukuku. Tak kupungkiri ku masih penasaran siapa dia sebenarnya.

Tak lama kemudian, lagi-lagi duniaku diganggung. Dengan suara yang asing, dengan suaranya. Aneh. Ku kira dia hanya akan menganggap kehadiranku hanya cameo belaka. Ku kira tak akan ada perbincangan antara kita. Tak akan ada tegur sapa. Namun, pikirku salah.

Iya, dia menegurku. Dia menyeruku tanpa memanggil namaku. Menanyakan buku yang ku genggam. Aku menyatakan padanya bahwa aku menyukai fiksi. Dan dia bilang dia juga sedang membaca fiksi. Dia membaca Pramoedya. Dan aku tau karya Pramoedya. Lalu perbincangan pun berlanjut. Perbincangan yang sangat biasa. Perbincangan pertama dua orang asing yang baru bersua.

Gelisah

Saat ini pukul 7.17 di Bandung. Terbangun seperti biasa karena kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Saya rindu menulis sepertinya. Sudah lama ribuan kata-kata berputar di atas kepala seakan ingin di lepaskan.

Bukan, saya bukan ingin membuka aib saya, kelemahan saya. Tapi melegakan saja rasanya. Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan. Menulis seperti membagi cerita yang menunjukan saya. Kalau saya tetap manusia.

Entahlah sudah berapa banyak hal-hal telah terlewati begitu cepatnya. Padahal kadang saya masih merasa seorang anak perempuan umur 6 tahun yang merindukan ibu dan ayah. Memeluk erat foto mereka karena kesepian yang tak tertahankan. Menahan perpisahan, dan menantikan pertemuan yang singkat.

Secara tidak sadar sejak ini saya sangat membeci perpisahan. Saya benci ditinggal. Detik-detiknya terasa sangat lamban. Detik-detiknya terbayang. Rasanya menusuk. Kadang saya bertanya, sebeginikah saya? Apakah yang lain juga sama? Dan akhirnya saya mulai terbiasa. Biasa mengalami perpisahan. Perpisahan yang biasa dan menyakitkan sekalipun. Entahlah apa yang menguatkanku di saat-saat itu. Walaupun rasanya sakit namun itu yang membuat saya kuat berdiri. Satu hal yang lewati saat itu. Tuhan, Dia lah yang memberikanku segalanya sampai saat ini.

Memang benar pengalaman tidak bisa dibeli. Pengasah kehidupan. Pengasah karakter. Pengalaman baik atau buruk. Sering saya terpuruk. Apalagi dengan masalah cinta. Sangat biasa memang. Namun rasanya seperti berkeping-keping. Semua orang memiliki kadar permasalahan yang berbeda. Hal yang sama adalah kita sama-sama merasakan sedih, sendiri, dikhianati, ditinggalkan. Bertanya mengapa harus begini? Mengapa harus seperti ini? Menapa semua tidak sesuai harapan? Mengapa semua di luar perkiraan? Mengapa tidak seperti yang saya inginkan? Beribu pertanyaan membebani pikiran.

Siapapun yang menyakiti, mereka tetap berharga. Mereka ditakdirkan menjadi ujianmu. Mereka membuat lebih kuat. Mereka pelajaran hidup. Jangan terpuruk dengan masa lalu. Masa itu sudah berlalu. Akhiri kesedihan, jalani kehidupan dengan kebaikan. Tersenyum dan terima takdir. Bangkit, jadilah seseorang yang lebih berharga dari sebelumnya. Jadilah orang yang memiliki kualitas. Jangan iri, jangan dengki, jangan benci, jangan ada kata dendam, itu penyakit dalam kebahagiaan.

Tuhan punya rencana lain. Tuhan, yang menguatkan. Tuhan yang memberi kehidupan. Dan saat seperti ini saya melihat sisi lain kehidupan. Sisi baik dari kesedihan. Belajarlah untuk menerima. Belajarlah untuk menjalani kehidupan dengan hati yang lapang. Tersenyumlah dan sabar. Hal indah menanti. Tanamlah benih-benih kebaikan dalam hidup. Kelak hasilnya pun akan baik. Kalau tidak di dunia, di akhirat nanti.

 

Hilang

Rasanya hidup makin berwarna dengan problematikanya. Terasa dengan kerumitannya. Bermakna dengan segala dramanya. Siapa yang bisa menghindari drama kehidupan? Tidak ada satu pun saya rasa. Percintanan, pertemanan, perkuliahan, pekerjaan, keluarga menjadi sumber utama problematikan kehidupan. Katanya, tiap beratnya problematika yang dihadapi, makin tinggi pula kualitas kehidupannya. Saya harap begitu.

Saya kira problematika yang saya sedang atau pernah alami hanya ada di sebuah cerita fiksi belaka, namun tidak, itu terjadi di kehidupan saya. Secara tidak sengaja saya ada di tempat dan waktu yang salah dan secara paksa memposisikan diri ini menjadi bersalah. Saya bersalah. Memang sudah tertulis takdir saya sebelum saya lahir ke dunia ini. Sekecil/seberat apapun masalah saya, memang sudah takdir. Apa yang harus saya perbuat? Hanya satu, lakukan apa yang dianggap benar. Jujurlah walaupun itu menyakitkan dan resikonya yang sangat besar. Walaupun saya tahu saya akan lebih salah dimatanya.

Kehilangan sosok teman dekat, akrab, atau bisa dibilang sahabat tak kalah sakitnya seperti kehilangan kekasih. Sulit diri ini memposisikan diri. Saya anggap tindakan saya benar dengan pikiran yang sudah cukup matang. Walaupun resikonya sangat besar bagi pertemanan/persahabatan. Inti dari semua, melakukan sesuatu dengan dasar kebaikannya yang seharusnya. Siapa tega melihat teman memperjuangkan seseorang begitu gigihnya yang kau tahu dia tidak kenyataannya tidak sebaik yang temanmu pikirkan. Membatin rasanya.

Tak bisa terus terbelenggu dalam sebuah kebohongan. Rahasia yang dianggap kecil namun sebenarnya besar. Rasa bersalah yang ada. Sudah saya katakan semua. Dengan berujung duka atas pertemanan yang sudah berjalan lama.

 

Rasa

laluku jadi laraku

depanku jadi bahagiaku

seakan punya dua pintu dunia

atau bisa diri ini terbagi dua?

merasakan perasaan berbeda

disaat yang sama.

 

sedih ini menjadi bahagia

menikmati kesedihan

hanya dinikmati dan

mengingatkan aku bahwa

diri ini masih manusia.

teruntuk kau – laluku.

 

tidak mampu dusta

rasa ini menyenangkan

mendambakan ini

saat ini

perasaan ini

membahagiakan hati ini

yang sudah seperti debu

apakah kau hanya sepintas kebahagianku?

atau akan selamanya?

teruntuk kau – depanku.

Melawan Naifku

Aku sudah mencapai lelahku. Bertarung dengan naifku yang tak pernah mengakui kenyataan. Bertahan menunggu sesuatu yang tak tahu akan kapan berubah. Mengharapkan hal yang sangat tidak pasti. Menyembunyikan perasaanku padahal didalamnya sangat terluka. Mencoba bangkit kali ini. Sadar kenyataannya tak sesuai. Mereka bilang kau tak pantas. Tapi, ku meyakinkan diri untuk terus bertahan.

Bodohnya ketika mencintai seseorang. Mengorbankan segala rasa sakit. Meyakinkan diri bahwa dia adalah orang yang ku inginkan. Namun tidak, semua salah. Aku hanya belum siap kehilanganmu saat itu. Belum siap dirimu mencintai orang lain selain diriku. Belum siap dirimu melupakan diriku. Belum siap dirimu bahagia bukan karena diriku. Aku juga tak siap ketika aku harus membiasakan dirimu hanya sebatas teman biasa. Egois memang. Orang terus bertanya mengapa aku bertahan. Aku tak tahu alasannya. Aku hanya melakukannya. Perasaan yang perlahan dihancurkan dengan sikapmu yang tak pernah berubah. Aku merasa pengorbananku sudah terlalu banyak dan sudah sangat cukup. Aku akui aku muak. Rasanya hatiku kebal saat ini. Sudah tak mampu lagi aku menangis mengeluarkan air mata. Namun sebenarnya dalam lubuk hatiku rasanya sangat pedih sekali. Aku masih bertanya, apakah ini tanda dari Tuhan atas usahaku? Usahaku yang kadang ku rasa hanya sia-sia. Karena aku ingin dibalas olehmu. Pamrih memang, tapi aku juga hanya manusia yang membutuhkan hal yang sama seperti yang aku berikan padamu.

Namun aku selalu percaya semua ada saatnya. Karena semua tidak ada yang kekal. Begitu juga perasaanku padamu. Perasaanku yang dulu begitu kuatnya. Perlahan melemah seiring berjalannya waktu. Perasaanku memudar padamu. Hal-hal yang begitu menyakitkan seolah membawaku pada sadarku. Dirimu memang tidak untukku. Perilakumu menyadarkanku dari kenaifanku sendiri.

Berpikir usaha orang tidak akan ada yang sia-sia. Tuhan memiliki rencananya sendiri. Aku hanya bisa berdoa sebagai manusia yang hina mencintai seorang keturunan Adam begitu besarnya. Tuhan menyadarkan ku sebagai manusia. Tidak pantas aku seperti itu. Dan perjalanan hidupku masih berjalan sangat jauh. Untuk mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik. Aku berharap tidak terlalu tinggi. Namun, Tuhan sangat mencintaiku dengan ujian-ujiannya. Aku hanya harus belajar dari pengalaman. Dari pengharapan yang sebelumnya yang pada akhirnya kandas. Yang ku yakini. Semua ada saatnya.