Siang Jakarta

Siang itu, Jakarta panas seperti biasanya. Gedung-gedung tinggi dengan pantulan cahaya dari kacanya. Tiang-tiang besar yang separuh jadi. Mobil yang saling mendahului.  Awan yang silih berganti menjadi penghias pandangku. Kala itu memang langit begitu cerah.

Begitu terang matahari yang melewati ke pupil mata. Aku menyipit. Mengurangi cahaya yang masuk. Ah aku selalu lupa membawa kacamata hitam, benakku.

Ku palingkan pandanganku ke arahmu. Disampingku. Pantulan cahaya itu. Cahaya yang masuk ke matamu. Membuat bulu di mata itu semakin jelas. Dengan wajahmu yang begitu tegas. Aku hanya terdiam, begitu pun dirimu. Aku memikirkan sesuatu. Dan dirimu, memandang ku dengan pikiranmu.

Advertisements

Menyentuh Biru

Aku berjalan di atas pasir yang tidak terlalu putih atau kecoklatan. Merasakan sentuhan mereka seperti menyambut kedatanganku. Begitu juga ombak yang menghampiriku lalu menjauh. Buihnya tertinggal lalu menghilang. Mereka menghampiriku lagi dan menghilang lagi.

Angin laut menyentuh seluruh kulitku yang tadinya berwarna kuning langsat menjadi sawo matang. Wajahku menyukai sentuhan angin. Sentuhan angin ke wajahku, membuatku tersenyum dan ku pejamkan mata. Rasanya tenang. Mendengar suara ombak yang menderu.

Kembali ku buka mata. Biru mendominasi mata ku yang tak tahu dimana ujung dari biru itu. Jari-jariku basah terkena air dan meninggalkan pasir-pasir. Jejak kakiku hanya bertahan sekian detik lalu tersapu ombak. Ku sisiri tepi pantai sambil merasakan sepoian angin. Pikiranku terasa ringan. Tak ada beban. Seakan semua bebanku sudah tertinggal entah dimana.

Melihat ombak-ombak yang saling mendahului menuju tepi. Aku hanya tertawa kecil. Matahari sudah di pelupuk mata. Dia akan tenggelam. Betapa indahnya. Tapi, sekejap ku ingat dirimu. Aku hanya bisa menutup mata. Merasakan keberadaanmu yang tak ada.

Ku rebahkan tubuhku pada pasir-pasir. Seakan mereka tak keberatan menopang tubuh besarku. Ku lihat awan yang pelan-pelan berjalan. Untung ombak hanya berani menyentuh ujung kakiku. Sepertinya mereka tau dan tidak ingin mengganggu. Lalu ku bayangkan kau disampingku. Tak berkata apa-apa hanya tersenyum. Merasakan hal yang sama. Betapa indahnya dunia. Bagaimana surga?

Sembunyi

Berkali-kali.

Sesak nafasku, seperti akan berhenti jantung ini.

Tidak, bukan karena benda tajam, hanya sebuah kata yang begitu tajam.

Jiwa ku seperti akan lepas.

Rasanya aku ingin tenggelam.

Pura-pura tuli dan tak perduli.

Suasananya terlalu hening, suaranya yang pelan terdengar sangat nyaring.

Tidak aku tidak bisa menenggelamkan diriku.

Padahal aku hanya ingin menghindar.

Aku hanya ingin bersembunyi dalam tenggelamku.

Tolong! siapa pun bantu aku?

Kalau tidak tenggelam mungkin aku bisa menghindar?

Bersembunyi dengan senyumku.

Aku sangat tidak nyaman!

Rasanya aku ingin teriak!

Tapi tidak, ku urungkan niatku.

Nanti kau yang terluka.

Aku tidak tega.

 

Pertemuan Pertama

Malam kala itu, pukul tujuh mungkin. Di sebuah rumah konveksi. Aku masuk dan melewati ruangan pertama yang penuh dengan tumpukan bahan, potongan kain yang bertebaran di lantai, pakaian tergantung entah berapa macam dan mesin-mesin jahit. Semua terlihat sibuk. Empat atau lima orang pekerja bersama tanggung jawabnya.

Lalu aku melangkah ke ruang selanjutnya. Ruang utama tidak terlalu besar dan cukup sempit dan penuh dengan barang-barang. Barang untuk dijadikan pakaian. Tumpukan baju, kain, bahan, namun ini lebih seperti ruang kerja dengan komputernya. Bersama bapak pemilik konveksi. Dengan putung rokok di tangannya, dia bercengkrama (ku pikir awalnya di ruangan ini tidak diperbolehkan merokok). Lalu aku hanya diam duduk di sudut ruangan. Mengamati perbincangan. Dan ku berulang kali mendengar satu nama yang selalu disebut sebagai bahan obrolan mereka, bahan candaan mereka.

Sampai pada akhirnya aku bosan dan ku raih buku, The Other Hand karya Chris Clave dari dalam tas jinjingku. Berniat untuk memasuki dunia bacaku, menghilang dari perbincangan yang tidak aku mengerti, menenggelamkan diri untuk beberapa saat kedalam bukuku. Beberapa menit dan lembaran ku habiskan. Ku mulai terbuai dengan cerita Little Bee dan Sarah. Namun sekejap ada suara langkah kaki yang mendekat memasuki ruangan, mengganggu indra pendengaranku, menarikku ke atas permukaan, fokusku teralihkan pada seseorang yang baru datang.

Ku melirik ke arahnya. Menatap pakaiannya yang membuatku bertanya. Apakah dia seorang tentara? atau perwira? Rasanya tubuhnya terlalu berisi untuk menjadi perwira atau tentara. Dan dia terlalu berbulu untuk menjadi itu. Perkenalan singkat sekedar menyebutkan nama dan jabatan tangan ala kadarnya mengawaliku untuk mengamatinya. (Oh ini orang yang terus disebut dalam pembicaraan sebelumnya). Aku ingat temanku bilang, dia pernah berada di SMA yang sama denganku. Mulai ku amati lagi wajahnya. Sangat asing. Ku berpikir keras. Siapa? Aku tak pernah melihatnya dulu. Namanya pun tak pernah ku dengar. Masih sangat asing. Lalu aku menyerah dengan tanya dalam benakku. Dan tak peduli akannya.

Setelah sekian detik yang ku buang sia-sia hanya untuk mengamatinya, ku kembali pada bukuku. Dan dia dengan perbincangannya. Suara samar-samar perbincangan mereka terdengar olehku, terbayang siapa yang sedang berbicara tanpa harus melihat ke arah mereka.

Sebelumnya temanku bilang bahwa dia pendiam, pemalu, kaku, dan memiliki dunia sendiri. Baiklah akhirnya ku simpulkan dia adalah orang angkuh dan aneh. Makin ku tak perduli dengan kehadirannya. Dan tak akan ku berusaha membuka pembicaraan dengannya. Ku coba lagi singkirkan pemikiranku tentang angkuh, aneh itu dan ku alihkan pada bukuku. Tak kupungkiri ku masih penasaran siapa dia sebenarnya.

Tak lama kemudian, lagi-lagi duniaku diganggung. Dengan suara yang asing, dengan suaranya. Aneh. Ku kira dia hanya akan menganggap kehadiranku hanya cameo belaka. Ku kira tak akan ada perbincangan antara kita. Tak akan ada tegur sapa. Namun, pikirku salah.

Iya, dia menegurku. Dia menyeruku tanpa memanggil namaku. Menanyakan buku yang ku genggam. Aku menyatakan padanya bahwa aku menyukai fiksi. Dan dia bilang dia juga sedang membaca fiksi. Dia membaca Pramoedya. Dan aku tau karya Pramoedya. Lalu perbincangan pun berlanjut. Perbincangan yang sangat biasa. Perbincangan pertama dua orang asing yang baru bersua.