Ketika

Apakah kalian pernah merasakannya?

Di suatu detik dalam diam,

memandangnya begitu dalam.

Tak perlu beribu untaian kata,

ataupun banyaknya tangkai bunga,

untuk sekedar yakin.

Kau buat aku meyukaimu,

menyukai segala waktu bersamamu.

Tak perlu menjadi sempurna,

ketika kita bisa memandangnya dengan sempurna.

 

 

Pengorbanan

Tak akan ada pengharapan lagi

Aku berhenti di titik ini

Sudah tau rasa kecewa

Perih terluka

Seperti akan binasa

 

Aku mulai lemah, sadar kah kau?

Lemah untuk menguatkanmu

Energi ku habis terkuras untuk dirimu.

Segalanya tentang dirimu.

 

Apakah aku saja,

yang akan berjuang?

Bagaimana denganku?

Yang kerap terluka,

menahan segala rasa

untukmu tetap bahagia.

Siang Jakarta

Siang itu, Jakarta panas seperti biasanya. Gedung-gedung tinggi dengan pantulan cahaya dari kacanya. Tiang-tiang besar yang separuh jadi. Mobil yang saling mendahului.  Awan yang silih berganti menjadi penghias pandangku. Kala itu memang langit begitu cerah.

Begitu terang matahari yang melewati ke pupil mata. Aku menyipit. Mengurangi cahaya yang masuk. Ah aku selalu lupa membawa kacamata hitam, benakku.

Ku palingkan pandanganku ke arahmu. Disampingku. Pantulan cahaya itu. Cahaya yang masuk ke matamu. Membuat bulu di mata itu semakin jelas. Dengan wajahmu yang begitu tegas. Aku hanya terdiam, begitu pun dirimu. Aku memikirkan sesuatu. Dan dirimu, memandang ku dengan pikiranmu.

Pertemuan Pertama

Malam kala itu, pukul tujuh mungkin. Di sebuah rumah konveksi. Aku masuk dan melewati ruangan pertama yang penuh dengan tumpukan bahan, potongan kain yang bertebaran di lantai, pakaian tergantung entah berapa macam dan mesin-mesin jahit. Semua terlihat sibuk. Empat atau lima orang pekerja bersama tanggung jawabnya.

Lalu aku melangkah ke ruang selanjutnya. Ruang utama tidak terlalu besar dan cukup sempit dan penuh dengan barang-barang. Barang untuk dijadikan pakaian. Tumpukan baju, kain, bahan, namun ini lebih seperti ruang kerja dengan komputernya. Bersama bapak pemilik konveksi. Dengan putung rokok di tangannya, dia bercengkrama (ku pikir awalnya di ruangan ini tidak diperbolehkan merokok). Lalu aku hanya diam duduk di sudut ruangan. Mengamati perbincangan. Dan ku berulang kali mendengar satu nama yang selalu disebut sebagai bahan obrolan mereka, bahan candaan mereka.

Sampai pada akhirnya aku bosan dan ku raih buku, The Other Hand karya Chris Clave dari dalam tas jinjingku. Berniat untuk memasuki dunia bacaku, menghilang dari perbincangan yang tidak aku mengerti, menenggelamkan diri untuk beberapa saat kedalam bukuku. Beberapa menit dan lembaran ku habiskan. Ku mulai terbuai dengan cerita Little Bee dan Sarah. Namun sekejap ada suara langkah kaki yang mendekat memasuki ruangan, mengganggu indra pendengaranku, menarikku ke atas permukaan, fokusku teralihkan pada seseorang yang baru datang.

Ku melirik ke arahnya. Menatap pakaiannya yang membuatku bertanya. Apakah dia seorang tentara? atau perwira? Rasanya tubuhnya terlalu berisi untuk menjadi perwira atau tentara. Dan dia terlalu berbulu untuk menjadi itu. Perkenalan singkat sekedar menyebutkan nama dan jabatan tangan ala kadarnya mengawaliku untuk mengamatinya. (Oh ini orang yang terus disebut dalam pembicaraan sebelumnya). Aku ingat temanku bilang, dia pernah berada di SMA yang sama denganku. Mulai ku amati lagi wajahnya. Sangat asing. Ku berpikir keras. Siapa? Aku tak pernah melihatnya dulu. Namanya pun tak pernah ku dengar. Masih sangat asing. Lalu aku menyerah dengan tanya dalam benakku. Dan tak peduli akannya.

Setelah sekian detik yang ku buang sia-sia hanya untuk mengamatinya, ku kembali pada bukuku. Dan dia dengan perbincangannya. Suara samar-samar perbincangan mereka terdengar olehku, terbayang siapa yang sedang berbicara tanpa harus melihat ke arah mereka.

Sebelumnya temanku bilang bahwa dia pendiam, pemalu, kaku, dan memiliki dunia sendiri. Baiklah akhirnya ku simpulkan dia adalah orang angkuh dan aneh. Makin ku tak perduli dengan kehadirannya. Dan tak akan ku berusaha membuka pembicaraan dengannya. Ku coba lagi singkirkan pemikiranku tentang angkuh, aneh itu dan ku alihkan pada bukuku. Tak kupungkiri ku masih penasaran siapa dia sebenarnya.

Tak lama kemudian, lagi-lagi duniaku diganggung. Dengan suara yang asing, dengan suaranya. Aneh. Ku kira dia hanya akan menganggap kehadiranku hanya cameo belaka. Ku kira tak akan ada perbincangan antara kita. Tak akan ada tegur sapa. Namun, pikirku salah.

Iya, dia menegurku. Dia menyeruku tanpa memanggil namaku. Menanyakan buku yang ku genggam. Aku menyatakan padanya bahwa aku menyukai fiksi. Dan dia bilang dia juga sedang membaca fiksi. Dia membaca Pramoedya. Dan aku tau karya Pramoedya. Lalu perbincangan pun berlanjut. Perbincangan yang sangat biasa. Perbincangan pertama dua orang asing yang baru bersua.