Pilihan

Saat aku menunggu,
Saat aku menanti, karena aku mau
Jangan hentikan aku, karena ini pilihanku.

Entah seberapa sulit,
Entah seberapa sakit, aku siapkan hatiku
Biarkan diriku.

Aku ingin mencari tau,
apakah itu dirimu?
Penantianku.

Waktu demi waktu pun,
aku akan belajar menerima takdirku,
Dirimu atau meski bukan dirimu.

Advertisements

Ketika

Apakah kalian pernah merasakannya?

Di suatu detik dalam diam,
memandangnya begitu dalam.

Tak perlu beribu untaian kata,
ataupun banyaknya tangkai bunga,
untuk sekedar yakin.

Kau buat aku meyukaimu,
menyukai segala waktu bersamamu.

Tak perlu menjadi sempurna,
ketika kita bisa memandangnya dengan sempurna.

Pengorbanan

Tak akan ada pengharapan lagi.
Aku berhenti di titik ini.
Sudah tau rasa kecewa.
Perih terluka.
Seperti akan binasa.

Aku mulai lemah, sadar kah kau?
Lemah untuk menguatkanmu.
Energi ku habis terkuras untuk dirimu.
Segalanya tentang dirimu.

Apakah aku saja,
yang berjuang?
Bagaimana dengan kau?
Apakah lalui hal yang sama?

Kurasa tak seberat diriku.
Korbankan ego,
dan kerap terluka,
menahan segala rasa,
untukmu tetap bahagia.

Siang Jakarta

Siang itu, Jakarta panas seperti biasanya. Gedung-gedung tinggi dengan pantulan cahaya dari kacanya. Tiang-tiang besar yang separuh jadi. Mobil yang saling mendahului.  Awan yang silih berganti menjadi penghias pandangku. Kala itu memang langit begitu cerah.

Begitu terang matahari yang melewati ke pupil mata. Aku menyipit. Mengurangi cahaya yang masuk. Ah aku selalu lupa membawa kacamata hitam, benakku.

Ku palingkan pandanganku ke arahmu. Disampingku. Pantulan cahaya itu. Cahaya yang masuk ke matamu. Membuat bulu di mata itu semakin jelas. Dengan wajahmu yang begitu tegas. Aku hanya terdiam, begitu pun dirimu. Aku memikirkan sesuatu. Dan dirimu, memandang ku dengan pikiranmu.