Menyentuh Biru

Aku berjalan di atas pasir yang tidak terlalu putih atau kecoklatan. Merasakan sentuhan mereka seperti menyambut kedatanganku. Begitu juga ombak yang menghampiriku lalu menjauh. Buihnya tertinggal lalu menghilang. Mereka menghampiriku lagi dan menghilang lagi.

Angin laut menyentuh seluruh kulitku yang tadinya berwarna kuning langsat menjadi sawo matang. Wajahku menyukai sentuhan angin. Sentuhan angin ke wajahku, membuatku tersenyum dan ku pejamkan mata. Rasanya tenang. Mendengar suara ombak yang menderu.

Kembali ku buka mata. Biru mendominasi mata ku yang tak tahu dimana ujung dari biru itu. Jari-jariku basah terkena air dan meninggalkan pasir-pasir. Jejak kakiku hanya bertahan sekian detik lalu tersapu ombak. Ku sisiri tepi pantai sambil merasakan sepoian angin. Pikiranku terasa ringan. Tak ada beban. Seakan semua bebanku sudah tertinggal entah dimana.

Melihat ombak-ombak yang saling mendahului menuju tepi. Aku hanya tertawa kecil. Matahari sudah di pelupuk mata. Dia akan tenggelam. Betapa indahnya. Tapi, sekejap ku ingat dirimu. Aku hanya bisa menutup mata. Merasakan keberadaanmu yang tak ada.

Ku rebahkan tubuhku pada pasir-pasir. Seakan mereka tak keberatan menopang tubuh besarku. Ku lihat awan yang pelan-pelan berjalan. Untung ombak hanya berani menyentuh ujung kakiku. Sepertinya mereka tau dan tidak ingin mengganggu. Lalu ku bayangkan kau disampingku. Tak berkata apa-apa hanya tersenyum. Merasakan hal yang sama. Betapa indahnya dunia. Bagaimana surga?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s