Melawan Naifku

Aku sudah mencapai lelahku. Bertarung dengan naifku yang tak pernah mengakui kenyataan. Bertahan menunggu sesuatu yang tak tahu akan kapan berubah. Mengharapkan hal yang sangat tidak pasti. Menyembunyikan perasaanku padahal didalamnya sangat terluka. Mencoba bangkit kali ini. Sadar kenyataannya tak sesuai. Mereka bilang kau tak pantas. Tapi, ku meyakinkan diri untuk terus bertahan.

Bodohnya ketika mencintai seseorang. Mengorbankan segala rasa sakit. Meyakinkan diri bahwa dia adalah orang yang ku inginkan. Namun tidak, semua salah. Aku hanya belum siap kehilanganmu saat itu. Belum siap dirimu mencintai orang lain selain diriku. Belum siap dirimu melupakan diriku. Belum siap dirimu bahagia bukan karena diriku. Aku juga tak siap ketika aku harus membiasakan dirimu hanya sebatas teman biasa. Egois memang. Orang terus bertanya mengapa aku bertahan. Aku tak tahu alasannya. Aku hanya melakukannya. Perasaan yang perlahan dihancurkan dengan sikapmu yang tak pernah berubah. Aku merasa pengorbananku sudah terlalu banyak dan sudah sangat cukup. Aku akui aku muak. Rasanya hatiku kebal saat ini. Sudah tak mampu lagi aku menangis mengeluarkan air mata. Namun sebenarnya dalam lubuk hatiku rasanya sangat pedih sekali. Aku masih bertanya, apakah ini tanda dari Tuhan atas usahaku? Usahaku yang kadang ku rasa hanya sia-sia. Karena aku ingin dibalas olehmu. Pamrih memang, tapi aku juga hanya manusia yang membutuhkan hal yang sama seperti yang aku berikan padamu.

Namun aku selalu percaya semua ada saatnya. Karena semua tidak ada yang kekal. Begitu juga perasaanku padamu. Perasaanku yang dulu begitu kuatnya. Perlahan melemah seiring berjalannya waktu. Perasaanku memudar padamu. Hal-hal yang begitu menyakitkan seolah membawaku pada sadarku. Dirimu memang tidak untukku. Perilakumu menyadarkanku dari kenaifanku sendiri.

Berpikir usaha orang tidak akan ada yang sia-sia. Tuhan memiliki rencananya sendiri. Aku hanya bisa berdoa sebagai manusia yang hina mencintai seorang keturunan Adam begitu besarnya. Tuhan menyadarkan ku sebagai manusia. Tidak pantas aku seperti itu. Dan perjalanan hidupku masih berjalan sangat jauh. Untuk mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik. Aku berharap tidak terlalu tinggi. Namun, Tuhan sangat mencintaiku dengan ujian-ujiannya. Aku hanya harus belajar dari pengalaman. Dari pengharapan yang sebelumnya yang pada akhirnya kandas. Yang ku yakini. Semua ada saatnya.

Advertisements

Author: Intan Hadiyanti

Perempuan yang hampir berusia 22 tahun. Beru saja menyelesaikan kuliahnya di bidang Ilmu Komunikasi, Jurnalistik. Sedang menjalani kehidupannya untuk menjadi wanita dewasa. Senang sekali berbahasa Indonesia. Masih mencari hal yang benar-benar diinginkannya. Cukup melalui banyak hal yang membuatnya sedikit kebal akan kehidupan dunia. Terlalu perasa, sensitif, dan peka. Lebih mendahulukan orang lain daripada dirinya. Suka menulis perasaannya dan peristiwanya, semoga kalian juga suka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s